بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Ibu saya sempat woro-woro, kalau di dekat rumah ada
taman bunga yang baru saja dibuka. Dari kalimat woro-woro yang beliau sampaikan, sepertinya ada semacam “kode”,
bahwa ibu mengajak saya untuk mengunjungi taman bunga yang bernama Taman Bunga
Asmara 2 ini. Baiklah, mari kita kemon, buk! Mumpung saya pulang dan ada
ponakan yang nginep di rumah, sekalian diajak wae.
Om Arip : “Ikut, nggak?”
Ponakan : “Kemana, om?”
Om Arip : “Taman bunga.”
Ponakan : “Taman bunga?”
Om Arip : “Iya…”
Ponakan : “Yes-yes. Ikut, om.”
Om Arip : “Sholat ashar dulu tapi. Habis itu baru berangkat.”
Ponakan : “Oke.”
Sementara ibu saya….
Ibu : “Sido….?”
Saya : “Lah, pripun to, buk? Terose pengen mriko?”
Ibu : “Ibune tak mbonceng tekan Turusan (nama desa) wae. Meh
tilik wong loro. Mengko nek wis balik seko taman bunga, ibune diampiri meneh.”
Saya : “Mboten sios ting taman bunga?”
Ibu : “Ora wes.”
SECEPAT ITU KEINGINAN
BELIAU BERUBAH.
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sebelum berangkat,
sebenarnya saya ragu-ragu saat menuju Stasiun Solo Balapan. Selain mendung yang
makin menjadi, akun @soerakartawalkingtour juga tak kunjung menampilkan instastory baru untuk memberitahukan
titik kumpul peserta yang akan mengikuti walking
tour sore itu. Padahal, sudah lebih beberapa menit dari “jam janjian” yang
dipublikasikan oleh sang admin instagram.
Apa mungkin dibatalkan karena faktor cuaca?
Tak mau terus
berasumsi, saya menepi dan berhenti sejenak untuk membuka instagram di ponsel
pintar. Sambil menggulir postingan yang ada di lini masa, sesekali saya mencoba
merefresh beranda instagram demi
mendapatkan kepastian dari pihak Soerakarta
Walking Tour.
***
Lima menit berselang,
hal yang saya tunggu-tunggu akhirnya muncul. Lingkaran berwarna merah jambu
dengan gradasi jingga ungu, tiba-tiba keluar menampakkan diri di sebelah kanan
foto profil akun instagram yang saya miliki.
Meeting point kita sore ini…
Begitu bunyi kalimat instastory dari akun @soerakartawalkingtour.
Dengan visual yang menunjukkan tulisan “Stasiun Solo Balapan”, cerita yang
dibuat menggunakan fitur boomerang
itu menjadi sebuah informasi penting bagi saya dan peserta walking tour lainnya.
Meeting point
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Dengan kecepatan agak
ngebut versi seorang Wisnu Tri, sepeda motor berwarna merah bercampur hitam itu
saya kemudikan melewati jalan-jalan arteri menuju TKP yang kami (saya dan dua teman saya) sepakati 20
menit sebelumnya. Ya, dua puluh menit sebelum akhirnya saya ditinggal mereka
berdua, karena janjian tak tepat waktu di hari Minggu tanggal 25 Agustus 2019
lalu.
Janjian jam 09:25, jam 09:30 masih goler-goleran di kasur sambil
baca artikel clickbait di beranda UC Browser. Belum mandi dan siap-siap pula. HAYO
JELAS DITINGGAL! DASAR TERLALU SANTUY MEMANG SAYA INI.
Lanjooot…
Cerita dari Anak Seni yang “Enggak Nyeni-Nyeni Amat” saat Mengikuti Curatorial Tour Artjog 2019
Jalan ke Kota Selasa, Agustus 27, 2019
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sebuah Warning :
Seperti biasa, blogpost ini bakal
lebih banyak berisi tulisan curhatan, daripada cerita selama saya mengikuti curatorial tour di Artjog tanggal 20
Agustus 2019 lalu. Jadi, selamat membaca dan maap-maap, ya… ◕3◕)/
*** ***
Gelar pendidikan
terakhir saya, sih, memang S.Sn.
SEKOLAH-STANDAR-NASIONAL.
Bukan, ding, Sarjana Seni.
Tapi sebenernya, saya
itu enggak nyeni-nyeni amat.
BENERAN.
Ketika kebanyakan anak-anak
seni (terutama yang fokus di bidang seni
rupa) lihai menuangkan unek-uneknya kedalam sebuah sketsa melalui
goresan-goresan pensil atau semacamnya, saya sampai saat ini baru bisa
menggambar manual ala kadarnya. Bukan. Bukan karena enggak berbakat atau apa.
Ini sebenernya lebih ke faktor males karena tangan saya enggak pernah saya
latih buat nggambar aja. Alhasil, ya, jadi begini. Menjadi anak seni rupa yang
tidak jago nggambar. He…
Lagi, ketika sebagian
besar orang seni selalu diidentikkan dengan penampilannya yang unik dan
nyentrik, penampilan saya malah sebaliknya. Gaya berpakaian biasa-biasa saja. Paling
sekedar pakai kaos gratisan dari acara kepanitiaan kampus, celana jins panjang
yang warnanya mulai pudar, sama sandal jepit swallow warna hijaow. Sudah cukup.
Pun dengan gaya rambut orang seni yang biasanya gondrong atau mempunyai gaya
unik tersendiri, rambut saya malah cuma tak potong pendek rapi.
Sebenernya, jaman
kuliah dulu pernah, sih, nggondrongin rambut biar terlihat lebih edgy dan artsy. Heleh. Tapi durasi rambut gondrong saya itu pol-polan
hanya bertahan selama satu semester, alias enam bulan saja.
Kenapa? Karena setelah
enam bulan kuliah, otomatis liburan semester yang ekstra panjang akan segera datang.
Yang secara tidak langsung, mau tidak mau, selama liburan saya bakal pulang ke
rumah dan bertemu dengan bapak-ibuk. YANG MANA LAGI, ibuk saya ini sering
sekali mengomentari rambut gondrong sebahu hasil kerja keras serta kesabaran
saya dalam memanjangkan sang rambut selama satu semester nitip absen yang
berkedok kuliah di UNS Solo.
“Di Solo memangnya enggak ada tukang cukur apa, Rip (Nama
panggilan saya kalau di rumah, –Arip)?”
Kalimat di atas biasanya
bisa berkali-kali ditanyakan ke saya, selama rambut gondrong berpolem (poni
lempar) badai masih bertengger mesra di kepala. Ya, daripada membuat beliau risih
dan bisa berujung dengan tidak dianggapnya lagi saya sebagai seorang anak,
dengan sedikit berat hati, akhirnya, rambut rutin saya potong setiap enam bulan
sekali.
ENAM BULAN SEKALI (dengan catatan pas mau pulang ke rumah saja, hahaha).
**Setelah lulus kuliah, jadi makin sering malahan. Dua apa tiga bulan sekali saya rutin potong ke tempat cukur. Sebenernya pengen punya rambut gondrong lagi, tapi enggak tahu kenapa, rambut saya ini sekarang gampang rontok. Terutama rambut bagian depan yang dulu bisa dibuat model polem. Sekarang, mah, tinggal nyisa seupil dibagian tengah doang. Pernah saya coba panjangin lagi, jadinya malah aneh. Kaya’ rambut Deddy Corbuzier jaman dulu yang mirip bentuk love itu. Hawagu banget ogg, yowes, potong pendek weh!
**Setelah lulus kuliah, jadi makin sering malahan. Dua apa tiga bulan sekali saya rutin potong ke tempat cukur. Sebenernya pengen punya rambut gondrong lagi, tapi enggak tahu kenapa, rambut saya ini sekarang gampang rontok. Terutama rambut bagian depan yang dulu bisa dibuat model polem. Sekarang, mah, tinggal nyisa seupil dibagian tengah doang. Pernah saya coba panjangin lagi, jadinya malah aneh. Kaya’ rambut Deddy Corbuzier jaman dulu yang mirip bentuk love itu. Hawagu banget ogg, yowes, potong pendek weh!
Pernah gondrong dan berpolem (detail poninya kaya' di foto profil blog ini--wkwk). Terus karena rontok, kepala pernah saya botaki dan saya olesi minyak kemiri yang katanya bagus buat pertumbuhan rambut--tapi tetep aja enggak ngefek. Dan sekarang jadinya seperti foto pojok paling kanan. Rambut depan yang tumbuh cuma bagian tengah doang. Pinggir-pinggirnya ilang. T___T (ada, sih, tapi enggak bisa panjang).
Nah, satu lagi alasan
yang membuat saya mendapat predikat sebagai anak seni yang enggak nyeni-nyeni
amat adalah, enggak pernah dateng ke pameran seni.
Terakhir ke pameran,
kalau enggak salah pas jaman kuliah. Itu pun karena yang ngadain adalah
anak-anak Fakultas Seni Rupa dan Desain satu angkatan, yang otomatis saya dan
teman-teman kelas juga ikut jadi panitia, peserta, dan penonton pameran itu.
Hahaha. Payah sekali memang kalau dipikir-pikir saya ini. Ra nyeni blas!
Cerita
Menuju Jogja…
Mumpung selo (selo terus padahal), kerjaan beres, dan
alkhamdulillah masih dapet tiket kereta Prameks, akhirnya lima hari sebelum
pameran ditutup, berangkatlah saya ke Museum Nasional Jogja buat nonton Artjog
2019.
Setelah melewati drama
gagal membungkus nasi sayur untuk rapelan sarapan dan makan siang, karena harus
buru-buru masuk stasiun demi menuntaskan sebuah hajat mendesak bernama kér-bo
di let-toi-let stasiun, akhirnya, saya beserta ratusan penumpang Kereta Api
Prambanan Ekspres lainnya, perlahan mulai meninggalkan Stasiun Solo Balapan
menuju Kota Bakpia, Jogjakarta.
Deru mesin lokomotif yang
sesekali diselingi suara deritan roda gerbong kereta sepanjang jalur rel Solo –
Jogja, menjadi langgam “merdu” yang menemani perjalanan saya siang itu. Terdengar
harmonis dengan beragam aktivitas yang dilakukan oleh para manusia di dalamnya.
Ada yang fokus mengotak-atik smartphone,
ngobrol basa-basi dengan penumpang disebelahnya, melamun dengan tatapan kosong
ke luar jendela, tidur di atas kursi dengan berbagai gaya, serta tak lupa, saya
yang sedang asyik mengunyah sepotong Roti O demi tuntutan perut yang gagal nge-brunch nasi rames bungkus, karena
harus kér-bo di let-toi-let stasiun.
Tujuh puluh lima menit
berlalu, akhirnya rangkaian ular besi berwarna hijau abu-abu ini sampai di
Stasiun Tugu yang menjadi stasiun pemberhentian terakhir di rute perjalanan siang
itu.
Assalamualaikum,
Jogja, saya tiba…
Nah, niatan saya
setelah keluar dari stasiun, sebenarnya ingin langsung memesan ojek daring
menuju Museum Nasional Jogja. Tapi apa daya, sepotong Roti O dengan rasa kopi yang
saya beli, ternyata tak mampu memenuhi hasrat kenyang bagi lambung saya setelah
keluar dan turun dari kereta. Alhasil, saya putuskan untuk mampir nyari makan lagi
disekitaran Jalan Malioboro.
Mumpung masih ada waktu
sekitar ±30 menitan sebelum curatorial tour Artjog dimulai, oke, makan dulu.
Insyaallah masih kekejar waktunya!
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Jadi, Saloka itu merupakan sebuah nama dari taman tematik
terbesar yang ada di Jawa Tengah. Lokasi tepatnya, ada di Jalan Fatmawati No.
154, Lopait, Tuntang, Kabupaten Semarang.
Lah, Tuntang itu
sebelah mananya Semarang? “Buta” daerah Semarang aku, Nu…
Tenang, bosku…
Buat kamu-kamu sekalian yang berasal dari luar Semarang dan belum
terlalu “mengenal” atau “hafal” daerah Semarang, tenang saja. CALM DOWN. Saloka
Theme Park ini mudah banget dijangkau, kok, karena lokasinya berada persis di
sisi jalan utama Solo – Semarang.
Biar lebih gampang dan yaqin, cari saja lokasinya lewat bantuan
Google Maps. Ketik “Saloka Theme Park” di kolom pencarian, kemudian, ikuti saja
petunjuk yang muncul di layar smartphone
kalian. Dijamin! Langsung ketemu tanpa takut bakal salah jalan, kebablasan, mblusuk-mblusuk, ataupun kena drama belok
di gang yang salah, seperti saat saya mencoba mampir ke Taman Sari beberapa waktu lalu itu. Hehe… Mau datang
kesini pakai motor atau mobil pribadi, bisa. Pakai transportasi massal seperti
ojek daring atau bus umum pun, no problem
romantiko, Bulgozo! Turun dari bus, sudah kelihatanlah itu, gerbang dan
maskot dari Taman Saloka.
Si Loka ; Maskot Saloka Theme Park
Oiya, katanya taman
tematik terbesar, tapi kok cuma ada lima wahana?
Sabar, wahai kawula muda penerus bangsa…
Sejatinya,
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Nggak jadi beli jam
tangan, mbak?
Tanya saya kepada Mbak Tutik (
nama kakak saya ) yang siang itu
gagal menawar harga di sebuah lapak penjual jam tangan di kawasan Malioboro.
Sambil berjalan mengikuti langkah kaki dari mbak, saya sempat melihat dia menggelengkan kepala dan membalas pertanyaan saya dengan satu jawaban singkat ;
“ENGGAK”.
Halah!?? Hapietokik?
***
Belajar Sejarah bersama “Nenek Moyang” di Museum Manusia Purba Sangiran
Jalan ke Kota Sabtu, Januari 19, 2019
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sebenarnya saya ogah – ogahan pas di ajak main ke Sangiran. Kenapa?
Karena dulu, saya sudah pernah berkunjung ke Museum Sangiran saat awal masuk
kuliah di Solo. Dan, yak, tentu saja!
Saya bukan termasuk orang yang terlalu suka untuk berkunjung ke tempat – tempat
seperti ini. He…. #peace ^^V
Sebagai alternatif, sebenarnya saya sempat menawarkan opsi
tempat lain ke teman – teman, tapi berhubung terkendala oleh beberapa faktor,
akhirnya, Museum Manusia Purba Sangiran tetap menjadi pilihan untuk menghabiskan
waktu akhir pekan kami berlima saat itu.
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Jika kalian pernah
berkunjung ke Gua Seplawan – Purworejo, tentu tak akan asing lagi dengan
keberadaan sebuah patung besar yang berdiri kokoh di dekat jalan masuk menuju
mulut gua. Ya, sebuah patung berwarna kuning keemasan ini merupakan replika
dari arca yang pernah ditemukan di dalam perut Gua Seplawan. Terbuat dari emas
murni dan memiliki berat sebesar 1.5 kg, arca berbentuk Dewa Syiwa dan Dewi
Parwati yang ditemukan di tahun 1979 ini, nyatanya tidak disimpan sendiri oleh pemerintah
Kabupaten Purworejo, tapi telah diserahkan ke pihak Museum Nasional yang berada
di Jakarta.
Nah, sebagai warga
Purworejo yang baik, ramah, dan taat membayar pajak kepada pemerintah, di awal
bulan November lalu, saya yang penasaran dengan bentuk asli arca emas Gua
Seplawan, mencoba menelusuri jejak – jejak arca emas Dewa Syiwa dan Dewi
Parwati yang sekarang disimpan di Museum Nasional – Jakarta.
Seperti apa kisahnya,
mari ikuti penelusuran saya....
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Keunikan – keunikan
dari Masjid Agung Surakarta ini, sebenarnya baru saya ketahui setelah mengikuti
acara walking tour bersama teman – teman dari Laku Lampah. Laku Lampah sendiri
merupakan sebuah komunitas yang sering mengadakan tour dengan berjalan kaki, untuk mengunjungi kawasan yang masih
meninggalkan jejak – jejak sejarah di Kota Solo dan sekitarnya. Sebut saja seperti Kabupaten Kudus di Jawa Tengah dan Madiun yang ada di Jawa Timur.
Nah, untuk walking tour kali ini, tujuan kami
adalah Masjid Agung Surakarta yang lokasinya berada di sebelah barat alun –
alun utara Kota Solo. Dimulai dengan perkenalan secara singkat, kami yang
terdiri dari 10 orang peserta, kemudian mulai mendengarkan cerita serta
penjelasan – penjelasan yang disampaikan oleh Mas Fendy selaku guide dari tim Laku Lampah. Dimulai dari
menara masjid, berikut ada 5 keunikan Masjid Agung Surakarta, versi saya…
1. Ada menara dengan 8 pengeras suara
Sambil sesekali
membetulkan letak frame kacamatanya,
Mas Fendy mulai menyampaikan sedikit cerita tentang sebuah menara yang berada
di sisi utara Masjid Agung Surakarta. Dengan tinggi 33 meter, menara yang
terinspirasi dari arsitektur Qutub Minar di India ini masih kokoh berdiri meskipun
sudah berusia 90 tahun. Dibangun pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwana X di
tahun 1928, menara yang berfungsi untuk mengumandangkan adzan saat memasuki
waktu sholat ini, ternyata memiliki 8 pengeras suara yang dipasang mengelilingi
dek pandang di bagian paling atas menara.
“Kalau mau naik ke atas,
sebenernya masih bisa. Tapi berhubung pintunya dikunci, mari lanjut ke
bangunan selanjutnya.”
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
TPA, which means a landfill alias Tempat Pembuangan Akhir, bukan Tempat Pendidikan
Al-Qur’an, ya? Hehe…
Hari itu kebetulan
saya pas di rumah. Istilahnya sedang mudik ke Purworejo. Dan apakah kalian
tahu, apa satu agenda rutin yang selalu saya kerjakan selama di rumah, selain
makan dan tidur?
Bukan sulap bukan
sihir, ini dia…..MOMONG PONAKAN.
( ( Tolong tepuk
tangannya….. ) )
( ( Prok….prok….prok….)
)
Nah, berhubung saya
pengen nyari sensasi lain saat “momong”, tak ajaklah itu dua ponakan jalan –
jalan (tapi naik motor) tanpa tujuan. Iya, nggak jelas banget memang. Pokoknya
muter – muter gitu aja. Toh mereka
berdua juga seneng – seneng aja. Hahaha…
Setelah hampir 45 menit berpanas – panas ria mengendarai motor mengikuti jalanan beraspal, tanpa sengaja, kami bertiga malah sampai di depan sebuah pintu gerbang TPA alias Tempat Pembuangan Akhir yang berada di desa tetangga. TPA Gunung Tumpeng namanya. Oke, mari mampir dulu…
Baca Juga : Wisata Edukasi di Hutan Mangrove “Demang Gedi”
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Beli Cimory bisa dapet
sapi….
Tapi itu dulu, kalau
sekarang mah udah enggak ada kayaknya ya, promo “dapet sapi” ini. Kudu sabar
nunggu Idul Adha mungkin. Sapa tau pihak Cimory bakal bagi-bagi sapi lagi. #Ngarep…
Nah, sembari nunggu
hadiah sapi dari Cimory, mari saya ajak kalian untuk ketemu langsung dengan
sapi-sapi yang ada di Cimory on the Valley. Kebetulan, pas pergi ke Semarang
beberapa bulan lalu, saya bisa mampir ke salah satu tempat wisata keluarga yang
dikelola langsung oleh pihak manajemen Cimory ini.
Terletak disisi jalan
utama Solo – Semarang, tepatnya berada di Jalan Raya Soekarno Hatta, Km. 30,
Kecamatan Bergas – Kabupaten Semarang, membuat Cimory on the Valley sangat
mudah dijangkau oleh pengguna kendaraan bermotor, baik beroda empat maupun kendaraan
beroda dua. Papan nama berukuran super besar pun juga sudah terpasang di depan outlet
Cimory on the Valley, demi memudahkan para calon pengunjung untuk menuju kawasan
wisata dari pabrik pembuat yoghurt kemasan ini. Jadi, tak usah takut kesasar
ataupun salah jalan, ya?
Ini papan namanya
Bertemu
Sapi Cimory…
Setelah melewati pos
penjagaan parkir dan memasuki halaman depan, mata kita akan langsung dikejutkan
dengan sesosok hewan yang menjadi maskot di Cimory on the Valley. Tidak lain
tidak bukan adalah seekor sapi berwarna hitam-putih yang berada di atas atap
bangunan. Sapi dengan ukuran tubuh yang cukup besar ini tengah gagah berpose
menghadap jalan raya utama dan siap menyambut pengunjung yang hadir di Cimory
on the Valley.
Hah…?! Ada sapi di atas gedung?
Tenang, cuma patung kok. Bukan sapi beneran. Hehe…
Sapi pertama sudah,
lanjut bertemu dengan sapi berikutnya yang bisa kita temui saat berjalan menuju
area utama dari Cimory on the Valley. Berbeda dengan sosok sapi di atas gedung
yang terlihat gagah dan sangar, sapi kedua yang berada di lorong pintu masuk
Cimory on the Valley, terlihat lebih ramah dan lucu. Kalau kata anak – anak
jaman sekarang sih, menggemashkan pakai “H”. Lihat saja bentuknya. Ukuran tubuh
yang pendek ditambah dengan perut gendut “ginuk – ginuk”, membuat saya tergoda
untuk membawa pulang patung sapi ini.
Lah, dinggo opo, Nu?
Buat pajangan di depan kamar kost, kan bisa :3
Tak hanya sebagai
patung penambah estetika saja, sapi ginuk – ginuk ini juga berfungsi sebagai papan
penunjuk arah bagi pengunjung Cimory on the Valley. Silakan pilih. Mau ke
restoran dulu, bisa. Mau ke toko resminya Cimory dulu, bisa. Atau seperti saya
yang langsung meluncur ke Cimory
Dairyland, juga bisa.
Tapi inget, beli tiket
dulu…
Tiket untuk memasuki
kawasan Cimory Dairyland dihargai Rp 15.000, dan bisa kita beli di meja kasir
restoran. Selain memperoleh tiket yang terbuat dari kertas stiker, kita juga
akan mendapatkan satu buah produk yoghurt Cimory. Awalnya, saya kira bakal
dapet yoghurt yang botolan, eh ternyata dapetnya yang model kotak begini. Ya
lumayan lah, itung – itung buat penghilang haus di tengah panasnya cuaca
Semarang. Yekan?
Tak kira bakal dapet Cimory botolan...Eh ternyata...
Setelah mendapat tiket
dan satu kotak yoghurt Cimory dari mbak – mbak kasir, saya mulai melangkahkan
kaki menuju Cimory Dairyland yang lokasinya berada di bawah restoran. For your information, seperti namanya, jadi
Cimory on the Valley ini berada di kawasan lembah yang kontur tanahnya tidak
rata. Jadi ya, naik–turun, naik–turun gitu.
Untuk area restoran, factory outlet, chocomory, serta toko berada di kawasan atas. Sementara untuk lahan yang digunakan sebagai kawasan agrowisata atau Cimory Dairyland, berada di area bawah.
Untuk area restoran, factory outlet, chocomory, serta toko berada di kawasan atas. Sementara untuk lahan yang digunakan sebagai kawasan agrowisata atau Cimory Dairyland, berada di area bawah.
Nah, di tengah-tengah
antara restoran dan area Cimory Dairyland, kita akan berjumpa lagi dengan tiga ekor
patung sapi. Ada dua sapi yang berdiri di belakang tulisan Cimory, serta satu
ekor sapi jantan yang terlihat duduk sambil memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya.
Tau dari mana kalau itu sapi berkelamin jantan, Nu? Sok teuw…
Lha itu enggak ada anunya….hahaha
*SKIP*
Tampak depan
Tampak belakang
Masih pengen ketemu
sapi lagi di Cimory? Mari berjalan kearah selatan menuju playground arena. Di arena ini terdapat satu set plosotan serta dua
buah mainan sapi ber-pegas (Namanya apaan
sih? Haha, masak sapi ber-pegas. Ngarang banget) yang bisa digunakan untuk
bermain anak-anak usia balita. Niatnya sih, saya pengen nyoba naik sapi-sapian ini. Tapi kok ya, malu…
Yasudah, lanjut jalan aja untuk
bertemu langsung dengan sapi asli penghasil susu enak-lezat-bergizi di
Cimory. Sapi-sapi ini berada di kawasan Cimory Farm yang terletak di bawah
arenan playground. Ada 8 ekor sapi
yang terdapat dalam satu kandang dan berasal dari jenis yang berbeda,
diantaranya sapi Frisian Holsteiner,
Guernsey, serta Ayrshire, yang
dikenal sebagai sapi perah penghasil susu.
Salah satu nilai positif
yang saya apresiasi di kandang sapi Cimory adalah adanya beberapa papan gantung
yang berisi keterangan dari masing – masing jenis sapi yang ada, sehingga
pengunjung yang tak begitu paham dengan seluk beluk dunia persapian (seperti
saya), akan mendapatkan pengetahuan baru tentang sapi. Top deh….Thumbs Up!
Sapi terkahir yang
akan kita jumpai adalah patung sapi yang ada di tengah kolam berisi ikan buas
khas sungai Amazon, Pirarucu atau lebih dikenal dengan nama Arapaima Gigas.
Sebagai seorang penikmat senitapi sayanya
nggak nyeni-nyeni banget, saya kok kasihan ya pas lihat patung sapi yang ada
di ujung sebelah kiri. Berasa di-anak tiri-kan gitu. Yang lain pakai kalung
lonceng, eh ini enggak. Yang dua bawa nampan dan botol susu, eh ini enggak
dikasih. Parahnya lagi, saat dua sapi disebelahnya menggunakan kain batik untuk
menutupi bagian bawah tubuh mereka, lah ini sapi malah diumbar – umbar gitu
auratnya.
Sebagai seorang penikmat seni
Astaghfirullahaladzim, sabar ya sapi…



































