12 Istilah “Aseli Solo” yang Wajib Anda Ketahui – Jilid 2

Rabu, Juni 06, 2018

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Istilah Asli Solo

Tulisan ini terlahir karena ada beberapa istilah yang belum saya tuliskan di blogpost bulan September 2016 lalu. Nah, bagi yang belum tau, dulu saya sempat membuat daftar 10 istilah asli Solo yang cukup sukses membuat saya bertanya – tanya ; “Ini artinya apa?”, saat mendengar istilah asli Solo ini pertama kali. Sebagai pelengkap, berikut saya tambahi dengan 12 istilah asli Solo lagi, yang semoga bisa sedikit memberikan ‘pencerahan’ bagi kalian yang mau jalan – jalan, pindahan, kuliah, atau sekedar mampir di Kota Solo, biar nggak bingung dan plonga – plongo seperti saya waktu itu. Wkwkwk…

PLONGA – PLONGO…

*****

Oiya, saya kan sedang ikutan lomba SEO, dan salah satu penilaian agar bisa menang adalah tulisan saya di blog, bisa masuk di page one google. Berhubung artikel yang saya daftarkan buat lomba baru terindeks di (sekitar) halaman 3 atau 4, saya minta bantuan temen – temen untuk nge-klik link berwarna biru ini ya, biar artikel yang saya tulis bisa merangkak naik ke halaman 1 di google search.

Terimakasih sebelumnya *kemudian sungkem sama pembaca satu – satu*


Istilah asli Solo

1. Jagong / nJagong
Istilah asli Solo pertama yang wajib anda ketahui adalah kata Jagong, atau kadang – kadang disebut juga dengan nJagong. Jika di daerah asli saya (Purworejo), kata jagong atau njagong berarti duduk, sementara di Kota Solo, kata jagong ini berarti kondangan. Beda banget, kan? Makanya, waktu pertama kali saya ngobrol bareng temen kuliah yang asli Solo, sering terjadi mispersepsi dengan penggunaan istilah jagong atau njagong ini.

Wisnu : “Mengko pas UKD, kowe meh njagong nang sebelah ngendi?” // “Nanti pas UKD (semacam ujian), kamu mau duduk dimana?”

Temen yang asli Solo : “…………….…..” *diam tanpa kata*

Niat hati mau bertanya mau duduk dimana, eh malah bisa jadi temen saya ini nangkepnya “Nanti pas UKD, mau kondangan dimana”. Kan nggak nyambung banget.

For your information, istilah yang sering digunakan warga Solo dan sekitarnya untuk menyatakan kata “duduk” yaitu “lungguh”. Jadi buat warga – warga di luar Solo, khususnya daerah Purworejo dan Eks. Karesidenan Kedu sana, jangan sampai salah persepsi seperti saya, ya, kalau pas ngobrol sama Wong Solo. He…

Jagong atau nJagong itu artinya kondangan, bukan duduk.

Arti Kata Jagong di Solo, Istilah asli Solo
Jagong di tempat Mas Benu Ingin Basketan

2. Es Teh Krampul.
Artinya es teh yang diberi potongan jeruk. Kalau boleh minjem istilah dari orang – orang Inggris dan Amerika, kata mereka sih, Lemon Tea. Saya kurang paham kenapa bisa disebut dengan es teh krampul, mungkin karena ada potongan jeruk yang terlihat ngrampul (Lah istilahnya apa ya?), makanya disebut es teh krampul.

Es teh krampul Solo, Istilah asli Solo

Awal – awal di Solo, saya nggak tertarik sama minuman ini. Lebih seneng sama es teh biasa. Tapi kok ya semakin kesini, si es teh krampul semakin terlihat lebih menggoda dan membuat ketagihan. Apalagi kalau pesennya sama mie ayam atau bakaran sate koyor dan nasi kucing di HIK khas Solo. Beuh! Manteb!

3. Lengo Pet.
Artinya minyak tanah. Sementara kalau di Purworejo, minyak tanah disebut lengo potro.

4. Pit.
Secara umum, artinya sepeda (kayuh–gowes). Tapi, nggak sedikit juga orang Solo yang menggunakan kata pit, sebagai kata ganti untuk sepeda motor.

Teman asli Solo : “Aku tak njupuk pit sik, nang kost e kancaku.”
Ekspektasi saya :  “Oh, dia mau ambil sepeda (kayuh–gowes) di kost'an temen.

Realita : BALIK-BALIK BAWA SEPEDA MOTOR.
Saya : Dalam hati ngomong begini –– NI ANAK MALING MOTOR DIMANA YA ALLAH? KATANYA MAU AMBIL SEPEDA, LHAKOK DAPETNYA MALAH MOTOR….??!!

5. Nyat / Nyet.
Artinya memang. Oiya, huruf “e” di kata “nyet” bacanya seperti huruf “e” di kata pelangi.

Sementara di daerah Purworejo, kata ‘memang’ biasa disebut ‘pancen’. Pernah denger tagline iklan obat sakit kepala Oskadon? Yap––Pancen Oye!. Nah, bagi yang dulu – dulu belum tau artinya, sekarang jadi tau artinya kan? Pancen itu artinya MEMANG!

6. Trancam & Gudangan.
Trancam merupakan kuliner khas daerah Jawa Tengah yang terdiri dari potongan kacang panjang, potongan kubis, mentimun, tauge, serta daun kemangi segar (alias mentah), yang dicampur dengan urap, sebuah bumbu dengan bahan dasar utama berupa parutan kelapa. Sementara gudangan adalah makanan yang terbuat dari aneka sayuran yang direbus, serta disajikan juga dengan taburan urap kelapa dibagian atas.

Sepintas memang mirip. Hal utama yang membedakan trancam dan gudangan yaitu dari segi sayurannya. Sayuran di trancam benar – benar mentah, sementara di gudangan, sayuran yang disajikan sudah melalui proses perebusan terlebih dahulu. Jujur, sampai sekarang pun, saya masih sering bingung untuk menyebutkan dua kuliner dengan bahan utama sayuran hijau ini. Sering ketuker antara trancam dan gudangan. Pas ngedraft buat blogpost ini aja, saya kudu buka google *astaga*.

Trancam - Gudangan asli Solo

Untuk gudangan, sebenarnya saya sudah tidak asing lagi, karena memang di Purworejo juga ada kuliner seperti ini. Namanya kluban. Biasa disajikan saat ada among – among untuk memperingati hari kelahiran seseorang. Ya, semacam syukuran ulang tahun begitu. Sementara trancam, saya baru tahu dan mencobanya untuk pertama kali saat tinggal di Solo.

Pilih mana, trancam apa gudangan?

Saya pribadi lebih memilih gudangan alias kluban. Tahu alasannya kenapa? Ya karena sayuran yang disajikan di gudangan atau kluban sudah melalui perebusan terlebih dahulu, jadi lebih empuk dan rasanya lebih bisa diterima lidah.

7. Jirih.
Artinya penakut. Tapi kalau di Purworejo, khususnya di desa saya tinggal, penakut biasa disebut dengan kata kucur.

8. Gembeng.
Artinya mudah menangis. Tapi kalau gembeng, sepertinya banyak diantara kalian yang tahu artinya. But honestly *halah*, saya baru tahu arti kata gembeng ini ketika di Solo, karena istilah yang biasa saya dengar selama di rumah dulu adalah ciwek. Ciwek = mudah menangis.

Sumber : giphy.com

9. Peluk.
Pengucapan huruf  “U” di kata peluk, hampir mirip dengan pengucapan huruf “O” di kata ELO, jadi nggak murni berbunyi “U” banget. Peluk ini artinya asap. Sementara di daerah saya, asap biasa disebut kebul.

10. Fitrah.
Istilah yang biasa digunakan masyarakat Solo untuk menunjukkan uang ‘angpao’ lebaran. Pertama kali mendengar istilah ini, saya pikir semacam uang untuk berzakat fitrah begitu. Eee… ternyata bukan.

Contoh :
“Lebaran tahun wingi kowe entuk fitrah piro? Akeh ra?”
“Lebaran tahun kemarin, kamu dapet duit (angpao) berapa? Banyak nggak?”

11. Gambar Corek.
Kalian tahu apa artinya?

FILM KARTUN.

Kok bisa ya? Entahlah, saya juga belum bisa memecahkan misteri kata “gambar corek” yang bisa disandingkan dengan istilah “film kartun”. Mungkin dari pembaca ada yang bisa menerangkan? Silakan bisa ditulis di kolom komentar, ya…

12. Tegke / Hategke.
Seperti tulisan tentang 10 istilah asli Solo di tahun 2016 lalu, kali ini saya juga akan menutupnya dengan sebuah kata “pisuhan” (eh, kata pisuhan bukan, ya?) yang kadang digunakan oleh teman – teman saya jaman kuliah dulu, yaitu Tegke. Semacam singkatan dari kata “Utekke”, yang artinya “Otaknya”. Biasanya kata “tegke” ini akan digunakan ketika seseorang ingin mengungkapkan sesuatu yang tidak masuk akal untuk dilakukan.

Contoh :
“Lha mosok Pak Heru ngekon dhewe gawe 30 ilustrasi kudu rampung 2 dino. Hategke!!!, kene yo ra biso, ya?”

“Lha masa’ Pak Heru nyuruh kita buat 30 ilustrasi harus selesai dalam 2 hari. Hategke!!!, sini ya nggak bisa, ya?”

Haaa.......tegke!!!
Sumber : giphy.com

***

Sudah 12 kosakata ya, hai pemuda – pemudi bangsa… Jadi misal kamu mau jalan – jalan, pindahan, kuliah, atau sekedar mampir di Kota Solo, insyaallah nggak akan bingung lagi ketika mendengar istilah – istilah seperti di atas. Cukup dengarkan, resapi, dan hayati. Maka nanti, kau akan menegerti… Tapi kalau lupa, boleh lah buka blogpost receh ini. Heish!

Oiya, bagi yang tadi belum sempat meng-klik link yang saya ikutkan untuk lomba SEO, silakan bisa klik link berwarna biru ini, ya... Terimakasih sekali lagi…

You Might Also Like

42 comments

  1. Gembeng xD ini sering banget didengar waktu kecil dulu, disematkan untuk anak-anak yang senggol dikit langsung banjir deh air matanya. Di daerah saya juga dipakai :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu termasuk "anak-anak" yang mbok sebutin itu nggak, Za? Kalau iya, selamat! Anda telah bergabung dengan grup GEMBENGERS....Hahaaaha

      Hapus
  2. Rada ada kemiripan dengan istilah bahasa Jawa di kota Magelang ya, tapi ada beberapa istilah diatas yang udah jarang kedengeran digunain dalam keseharian, seperti : lengo pet dan nyat-nyet.

    Entah kenapa alasannya 2 kata itu udah ngga kedengaran lagi sekarang digunain 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyakah? Tak kira Bahasa Jawa di Magelang itu hampir mirip sama Purworejo, karena sama-sama masuk Karesidenan Kedu, mas...

      Hapus
    2. Iyo,mas Tri.
      Ono miripe sitik2.

      Hapus
  3. istilah istilah ini tidak beda jauh dengan bahasa keseharian di daerah saya Mabakyu. wes toh pokoe podo sami mawon

    BalasHapus
  4. Sungguh, nggak ada satu pun kata yang pernah saya dengar ketika main ke Solo. Wong, mereka juga pada meneng wae. Wqwq.

    Kata fitrah dan peluk beda jauh sekali artinya dalam bahasa Indonesia. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Misal ngomong pun, mungkin pakainya Bahasa Indonesia juga kan? Haha...

      Hapus
  5. Gambar corek, bisa nih dikembangkan jadi postingan grup,, hehehe

    BalasHapus
  6. sesama Jawa Selatan aja, ada perbedaan istilah ya,
    sama Jawa Utara, apalagi Jawa Timuran pasti beda lagi,

    aku pernah denger "jagong" itu ada yang artinya ngobrol

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi Solo itu masuknya Jawa Tengah bagian tengah menurutku sih mbak. Nggak selatan-selatan banget. Haha.

      Itu kalau ada akhiran '-an'nya, baru artinya ngobrol, Mbak.

      Contoh : "Aku meh jagongan sik, karo Wisnu". Begitu.... :D

      Hapus
  7. Yang sama sih baru gembeng dan jirih wkwk. Seru juga belajar istilah-istilah daerah lain begini, biar nanti kita bisa menyesuaikan diri jika ke sana.
    Bantul, eh lebih tepatnya daerahku juga punya istilah yang pas zaman kuliah dulu suka dipertanyakan teman-teman pas aku gunain.
    Contoh:
    mbene: ke sini
    mbono: ke sana

    Eh iya, baru sadar kalau "jagong" tu ternyata punya banyak makna. Hehe. Duduk, ngobrol, kondangan, terus apa lagi :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, jadi pas singgah ke kota tertentu setidaknya kita udah pernah tau artinya apaan. Terus nggak heran juga kalau Indonesia kaya sama bahasa derah. Lhawong sesama Bahasa Jawa aja, ada banyak kata/istilah gini. Apalagi kalau digabung sama bahasa-bahasa daerah lain.

      Kalau di tempat saya, mrene sama mrono xD Bukan mbene - mbono.

      Di tempatmu jagong artine apa mbak? Duduk apa kondangan?

      Hapus
  8. Keluk ra sih? Dudu peluk. Jd mikir yg enggak2 wkwkwj

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sudah tanya Bude Rosi, katanya peluk atau keluk itu sama benernya kok, Va. Artinya sama-sama "asap"

      Hapus
  9. trancam aku to seneng ndek Malang yo onok hehe
    enak iku
    pisuhannya masih alus mas menurutku, aku juga kadang denger kata utekke dari temen

    Janxxx dan makmu kiXXr masih lebih kasar kayaknya hehe

    oalah pit itu adapes klo orang Malang bilangnya
    baru tau aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang janxxx aku paham mas, tapi kalau yang makmu kixxr, aku ora paham maksud e opo. Bagi tau, tolong. Hahaha...

      Adapes rotom apa adapes sewog?

      Hapus
  10. padahal sesama bahasa jawa ya, tapi beda jauh artinya. Yang saya kenal ya cuma 1 aja jagong/njagong, orang-orang jawa di daerah Sumut juga menyebut duduk dengan kata ini.

    Wah kalau disolo berarti harus hati-hati nih apalagi kalau bilang "kuwe njagong karo sopo?" sama seorang jomblo, bisa baperan dia haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kemungkinan besar orang-orang Jawa yang ada di Sumut itu dari Solo, kalau nggak daerah Jawa Timuran sana mas :D

      Hapus
  11. Jogja juga sama kang.. Pit, njagong ya sami mawon.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. di Jogja juga udah pakai istilah jagong, to? Baru tau xD

      Hapus
    2. jagong manten..
      justru saya lumrahnya denger begituan.. :D

      trancam ambek gudangan ya jan jane tau krungu kok.. mung ra tau jajal hehe

      Hapus
  12. Udh ku klik tulisan yg biru2 lho mas, suk yen menang aku kudu dikei fitrah yes! Hahaha
    Aku kok ngakak baca istilah2 asli solo ya. Beda bgt dg makna yg biasa aku pahami.. Wkwkwk
    Njagong njagong..😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...Ora janji yen ngeke'i fitrah, La'. Adoh ogg. Hahaha...

      Nah, apalagi sama Bahasa Jawa Banyumasan. Mesti banyak banget bedane.

      Hapus
    2. Fitrahe iso di transfer kok mas😜😜😜😜
      Iya beda banget maknanya sama bahasa banyumasan, hhh

      Hapus
  13. Baru tau arti kata jago itu kondangan. Wkwk...

    Gue taunya ya duduk. Gak lebih. Hehe

    Dan ada beberapa istilah yang baru didenger n gak ngerti. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jagong, bukan jago, Bang. Ayam itu mah :(

      Hapus
  14. Belum pernah ke solo, tapi suatu saat smoga bisa kesana, sepertinya banyak tempat menarik yang bisa di kumjungi

    BalasHapus
  15. Suujon aja woy wakakaka
    Abis ngakak baca yang temennya mau ambil pit, trus bawa pulang motor, trus yu kira maling hahaha

    Pertama njagong, manggut2 soale pernah atau malah sering denger istilah njagong manten

    Kedua, es teh krampul, ksli jeruknya itu krampul2 #tapi kok ngedenger krampul malah kebayang makanan lele yg krsmpul-krampul di blumbangan ya huuuh

    Tapi aku dadi penisirin mbek sate koyor, semacam sate apakah itu #gugling ae sono mbaaak haha

    Berikute, nyet...takpikir mau ngucapkannya mirip lavalan kata monyet, ternyata lebih ke sakjeg saknyet toh

    Nek gudangan, coroku ki kluban lah ya istilah gampange

    Nek jirih, takkira malah artine jijian, ternyata udu huhu

    Grmbeng, jaman cilik aku selalu dicap gembeng sama orang soale emang nangisan sih haha

    Terakhir yawes ntar tak klik e sik mbok link warna biru iku

    Ben menang

    BalasHapus
  16. Wah... kalau berteman dengan warga Solo asli yang tinggal di sekitaran Pasar Gede, pasti akan biasa dengar kalimat seperti ini, "Ini barange da mana? Piye ngambi'e?" Yang mana dalam bahasa jawa Solo normal adalah,"Iki barange ndek ngendi? Piye njupuke?"

    BalasHapus
  17. Masih kurang ngerti sih, cuman gua baca aja hehe

    BalasHapus
  18. setiap daerah punya ciri khas, apalagi dlm masalah bahasa

    BalasHapus
  19. jagong sama pacar:) , duduk bedua ... ambil snack dan makan , udah kelar ngasih amplop ke mempelai berdua ... wk wk wk

    BalasHapus
  20. Entar kalo aku ke Solo udah bisa tau istilah-istilah itu dong yah. Hehe. Nice blogpost mas Wisnu :) Bermanfaat banget.

    BalasHapus
  21. Wah aku masih asing nih, pengen belajar nih. Biar bisa, setidaknya paham apa yang diucapkan..he
    Setiap daerah punya istilah2nya sendiri ya, Mas.

    BalasHapus
  22. kalo di sini jagong enak tuh apalagi kalo dibakar

    BalasHapus
  23. Aku mudeng kabeh, hahaha

    La wong aku wong jowo

    BalasHapus
  24. Saya orang asli solo tapi malah baru denger yo, sumpah ini beneran. Yang sering cuman gembeng karo tegke doang, lainnya baru tahu. Kalau trancam sama gudangan ngerti dikitlah soalnya kalau makanan mah jangan ditanya lagi. Emang sih sekilas kayak gak jauh beda, persis malah. Cuman ya itu kata mas wisnu bedanya cuman prosesnya doang, satunya direbus satunya gak.

    BalasHapus
  25. Njagong kalo di tempat saya Mas

    BalasHapus
  26. Menarik sekali ini ulasannya, Nu. Sebagai orang asli Solo aku sama sekali nggak nyadar kalau kata-kata yang kamu sebutin itu ternyata nggak umum, bahkan sesama di Jawa. Wkwkwkw. Yuk, kolaborasi saja kita. Bikin kamus pisuhan wong Solo. Hahahahha

    BalasHapus

Yakin udah di baca? Apa cuma di scroll doang?
Yaudah, yang penting jangan lupa komen yes?
Maturnuwun ^^

Member Of

Warung Blogger

Total Viewers