بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
Sumber : pixabay.com
Berbuat baik itu tidak harus menunggu kaya terlebih dahulu.
Itulah kalimat
motivasi yang sering saya dengar dan saya baca di beberapa buku maupun media.
Sederhana, tapi penuh makna. Sebuah kalimat yang perlahan menyadarkan saya,
bahwa berbuat baik sebenarnya adalah hal yang mudah dan bisa dilakukan oleh siapa
saja. Tidak harus kaya, tidak harus dengan harta. Cukup berbagi dengan apa yang dimiliki
“saat ini” saja, kita sudah bisa menjadi pelaku kebaikan bagi sesama.
Dianugerahi Tuhan
dengan kepandaian akademis? Tak ada salahnya membuka tempat les atau kelas
khusus untuk berbagi ilmu yang kita miliki.
Memiliki waktu luang
dan tenaga ekstra? Bergabung menjadi relawan di sebuah komunitas atau lembaga
sosial, mungkin bisa menjadi pilihan.
Punya keahlian mendongeng
atau menggambar? Cobalah mengajak anak-anak di sekitar rumah untuk belajar
bercerita dan menggambar bersama.
Ya, beberapa contoh di
atas memang baru sebagian kecil dari sekian banyak aksi kebaikan yang bisa kita
lakukan. Meskipun tanpa ada embel-embel harta, nyatanya, manusia masih bisa berbuat
baik dengan beragam cara. Cara-cara sederhana inilah yang kemudian menginspirasi,
serta menjadi alasan kuat bagi saya untuk melakukan hal yang kurang lebih sama.
Berbagi kebaikan dengan bermodalkan “apa yang saya miliki saat ini”.
Apa itu? Berbagi
darah.
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
Ibu saya sempat woro-woro, kalau di dekat rumah ada
taman bunga yang baru saja dibuka. Dari kalimat woro-woro yang beliau sampaikan, sepertinya ada semacam “kode”,
bahwa ibu mengajak saya untuk mengunjungi taman bunga yang bernama Taman Bunga
Asmara 2 ini. Baiklah, mari kita kemon, buk! Mumpung saya pulang dan ada
ponakan yang nginep di rumah, sekalian diajak wae.
Om Arip : “Ikut, nggak?”
Ponakan : “Kemana, om?”
Om Arip : “Taman bunga.”
Ponakan : “Taman bunga?”
Om Arip : “Iya…”
Ponakan : “Yes-yes. Ikut, om.”
Om Arip : “Sholat ashar dulu tapi. Habis itu baru berangkat.”
Ponakan : “Oke.”
Sementara ibu saya….
Ibu : “Sido….?”
Saya : “Lah, pripun to, buk? Terose pengen mriko?”
Ibu : “Ibune tak mbonceng tekan Turusan (nama desa) wae. Meh
tilik wong loro. Mengko nek wis balik seko taman bunga, ibune diampiri meneh.”
Saya : “Mboten sios ting taman bunga?”
Ibu : “Ora wes.”
SECEPAT ITU KEINGINAN
BELIAU BERUBAH.
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
Ke Jakarta lagi. Kalau
bukan karena urusan masa depan, mungkin saya enggak bakal bela-belain berburu
tiket kereta ke ibu kota. Maklum, sedang mencoba jadi job seeker lagi. Minta
doanya, ya, semoga kali ini bisa jadi jalan rezeki saya. Aamiin…
***
Seperti biasa, tak
nikmat rasanya jika perjalanan saya tidak dibumbui dengan drama-drama receh
pelengkap cerita. Teringat dengan tulisan lawas tentang serangkaian drama selama tes CPNS tahun 2017, serta tragedi berdarah receh saat
jalan-jalan ke Bukit Mongkrang, saya jadi pengen menuliskan beberapa drama yang
saya alami selama melakukan perjalanan di ibu kota beberapa minggu lalu. Dimulai
dengan 4 jam “ngemper” di Stasiun Pasar Senen dan ditutup dengan cerita tidak
enak badan selama perjalanan pulang dari Jakarta menuju Surakarta.
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
Sebelum berangkat,
sebenarnya saya ragu-ragu saat menuju Stasiun Solo Balapan. Selain mendung yang
makin menjadi, akun @soerakartawalkingtour juga tak kunjung menampilkan instastory baru untuk memberitahukan
titik kumpul peserta yang akan mengikuti walking
tour sore itu. Padahal, sudah lebih beberapa menit dari “jam janjian” yang
dipublikasikan oleh sang admin instagram.
Apa mungkin dibatalkan karena faktor cuaca?
Tak mau terus
berasumsi, saya menepi dan berhenti sejenak untuk membuka instagram di ponsel
pintar. Sambil menggulir postingan yang ada di lini masa, sesekali saya mencoba
merefresh beranda instagram demi
mendapatkan kepastian dari pihak Soerakarta
Walking Tour.
***
Lima menit berselang,
hal yang saya tunggu-tunggu akhirnya muncul. Lingkaran berwarna merah jambu
dengan gradasi jingga ungu, tiba-tiba keluar menampakkan diri di sebelah kanan
foto profil akun instagram yang saya miliki.
Meeting point kita sore ini…
Begitu bunyi kalimat instastory dari akun @soerakartawalkingtour.
Dengan visual yang menunjukkan tulisan “Stasiun Solo Balapan”, cerita yang
dibuat menggunakan fitur boomerang
itu menjadi sebuah informasi penting bagi saya dan peserta walking tour lainnya.
Meeting point












