Setetes Kebaikan dalam Sekantong Darah

Minggu, April 19, 2020


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Menebar Kebaikan dengan Donor Darah Dompet Dhuafa
Sumber : pixabay.com

Berbuat baik itu tidak harus menunggu kaya terlebih dahulu.

Itulah kalimat motivasi yang sering saya dengar dan saya baca di beberapa buku maupun media. Sederhana, tapi penuh makna. Sebuah kalimat yang perlahan menyadarkan saya, bahwa berbuat baik sebenarnya adalah hal yang mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak harus kaya, tidak harus dengan harta. Cukup berbagi dengan apa yang dimiliki “saat ini” saja, kita sudah bisa menjadi pelaku kebaikan bagi sesama.

Dianugerahi Tuhan dengan kepandaian akademis? Tak ada salahnya membuka tempat les atau kelas khusus untuk berbagi ilmu yang kita miliki.

Memiliki waktu luang dan tenaga ekstra? Bergabung menjadi relawan di sebuah komunitas atau lembaga sosial, mungkin bisa menjadi pilihan.

Punya keahlian mendongeng atau menggambar? Cobalah mengajak anak-anak di sekitar rumah untuk belajar bercerita dan menggambar bersama.

Ya, beberapa contoh di atas memang baru sebagian kecil dari sekian banyak aksi kebaikan yang bisa kita lakukan. Meskipun tanpa ada embel-embel harta, nyatanya, manusia masih bisa berbuat baik dengan beragam cara. Cara-cara sederhana inilah yang kemudian menginspirasi, serta menjadi alasan kuat bagi saya untuk melakukan hal yang kurang lebih sama. Berbagi kebaikan dengan bermodalkan “apa yang saya miliki saat ini”.

Apa itu? Berbagi darah.


Donor pertama kali, hingga menjadi “agenda” rutin sampai saat ini…
Saya lupa kapan tepatnya, tapi yang pasti, kegiatan menyumbangkan darah ini pertama kali saya lakukan saat masih duduk di bangku SMA.

Saat itu, saya dan teman-teman pengurus ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) sedang mengadakan kegiatan donor darah di sekolah. Dari beberapa siswa yang mengantre untuk donor, ternyata tak ada satu pun nama dari teman-teman pengurus yang mendaftar.

Nah, entah iseng atau memang sengaja memberikan sindiran, salah seorang dari kami secara tiba-tiba mengeluarkan celetukan kurang lebih seperti ini :

“Ngisin-ngisini, cah. Jare cah PMR, tapi ra wani donor. Yen pengurus nyobo donor, pie?”  //  “Malu-maluin, sob. Katanya anak PMR, tapi nggak berani donor. Kalau (anak-anak) pengurus nyobain donor, gimana?”

Mendengar kalimat itu, sontak kami tertawa.
Lah, bener juga, ya?

PMR SMA N 7 Purworejo
Teman-teman PMR saat SMA.
Maaf jika editannya memang lebai, karena setelah nyecroll-nyecroll koleksi foto di facebook, nemunya cuma ini ^^V

Tak mau kalah dengan siswa-siswi non-PMR yang sudah mengantre, kami pun akhirnya menerima tantangan yang kami buat sendiri. Setelah mendaftar dan melakukan pemeriksaan awal, dari tujuh orang pengurus, ternyata yang lolos dan bisa melakukan donor darah –kalau saya tidak salah ingat, hanya dua atau tiga orang saja.

Dan, saya adalah salah satunya.

Seneng? Sebenarnya tidak terlalu, karena pikiran saya waktu itu sudah dihantui dengan rasa sakit yang biasa ditimbulkan oleh tusukan dari sebuah jarum suntik.

Tapi alhamdulillah, setelah mulut berulang kali melafalkan kalimat bismillah, niat untuk berbagi darah kepada sesama pun lebih mantap dan semakin kuat. Selang 15 menit setelah jarum suntik ditusukkan ke pergelangan tangan, proses pengambilan darah pun selesai. Perasaan waswas yang muncul di awal donor, akhirnya perlahan hilang saat melihat sebuah kantong berisi 450 ml darah yang berhasil saya bagikan.

***

Ya, cerita awal mula saya bisa mendonorkan darah memang sereceh itu. Meskipun hanya berawal dari sebuah tantangan ala-ala anak SMA, syukur alhamdulillah, kegiatan ini masih bisa saya lanjutkan hingga sekarang.

Setelah melewati momen “donor darah pertama kali”, saya masih diberikan kesempatan untuk mendonorkan darah di bulan-bulan berikutnya. Donor darah kedua, ketiga, keempat, hingga donor darah ketiga puluh yang saya lakukan pada tanggal 20 Maret 2020 lalu.

Dari yang awalnya donor dengan perasaan waswas dan deg-degan, kini saya sudah bisa merasakan “nikmatnya” tusukan jarum suntik yang menempel di pergelangan tangan. Halah, sok iye banget ini. Wkwkwk.

Menebar Kebaikan dengan Donor Darah Dompet Dhuafa
Piagam penghargaan dari PMI Kota Surakarta setelah saya donor darah sebanyak 10 kali dan 25 kali
 Menebar Kebaikan dengan Donor Darah Dompet Dhuafa
 Kartu donor darah yang saya miliki
 
Kenapa donor darah…?
Kamu, pernah membaca atau menemukan postingan di media sosial yang berisi ajakan untuk berdonor darah? Jika iya, pernah tanya kenapa nggak, sih? Kenapa Palang Merah Indonesia (PMI) sebagai pihak penyelenggara donor darah serta pengolahan darah sebegitu getolnya mengampanyekan ajakan ini?

Jawabannya, karena permintaan dan kebutuhan akan darah di lapangan itu sangatlah tinggi. Sementara, stok darah yang dikelola oleh PMI masih sangat jauh di bawah angka aman. Dikutip dari laman tempo.co, data dari WHO menunjukkan bahwa kebutuhan darah di Indonesia per tahun mencapai 5,1 juta kantong, sementara yang terpenuhi baru sekitar 4,2 juta kantong darah saja.

Menebar Kebaikan dengan Donor Darah Dompet Dhuafa

Apa dampaknya? Tentu saja orang-orang yang butuh darah akan kesulitan menemukan darah pengganti untuk kepentingan perawatan atau pengobatan mereka. Korban kecelakaan, para pasien yang melakukan operasi besar, orang-orang yang memiliki penyakit kelainan darah seperti thalassemia dan hemofilia, bahkan, ibu hamil yang baru saja melahirkan pun bisa terdampak, lho! Data Kementerian Kesehatan di tahun 2016 menyebutkan, bahwa sebanyak 28% penyebab kematian ibu saat melahirkan adalah akibat perdarahan, serta tidak tersedianya pasokan darah setelah tindakan persalinan.

Sedih nggak, sih? Di negara dengan jumlah penduduk sebanyak 250 juta lebih, ternyata kita masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan darah...

Menebar kebaikan dengan donor darah…
Nah, dari sedikit uraian di atas, tidak ada salahnya jika per hari ini kita mulai berniat untuk mendonorkan darah. Selain membantu tercukupinya persediaan darah nasional, ternyata sekantong darah yang kita donorkan juga bisa menjadi media penebar kebaikan kepada sesama. Kebaikan yang bisa dirasakan, tentu saja ketika darah yang disumbangkan bisa berpindah tangan dan ditransfusikan kepada orang yang membutuhkan. Tak hanya untuk satu pasien saja, bahkan 450 ml darah yang kita donorkan akan membantu menyelamatkan tiga nyawa sekaligus.

Ilustrasinya kurang lebih seperti ini : jika pihak resipien (penerima) membutuhkan seluruh komponen darah (whole blood), otomatis semua darah yang ada dalam kantong akan langsung ditransfusikan ke dalam tubuh penerima. Sederhananya, satu kantong darah yang kita sumbangkan akan digunakan untuk membantu menyelamatkan satu nyawa manusia.

Sementara, jika sang resipien hanya membutuhkan komponen tertentu saja dari darah (eritrosit, trombosit, atau plasma darah saja), maka darah akan diolah terlebih dahulu untuk dipisahkan sesuai kebutuhan pasien. Proses pemisahan ini nantinya akan menghasilkan tiga kantong yang berbeda, yaitu satu kantong berisi eritrosit saja, satu kantong berisi trombosit saja, serta satu kantong khusus yang berisi plasma darah saja.

Apakah ketiga komponen ini bisa digunakan semua?

Iya. Semua kantong yang berisi komponen-komponen darah tersebut tetap bisa ditransfusikan sesuai kebutuhan atau permintaan pasien. Nah, dari sini kita tahu bahwa satu kantong darah yang kita donorkan, ternyata bisa membantu menyelamatkan 3 nyawa sekaligus. Enggak main-main lho ini!

TIGA.

NYAWA.

MANUSIA.

Anggap ini baru berasal dari satu kantong darah saja. Bisa dibayangkan kan, ada berapa nyawa yang terselamatkan jika kita sudah melakukan 5 kali donor? 10 kali donor? Atau bahkan 100 kali donor? Akan ada banyak kebaikan yang bisa kita tebarkan meskipun hanya melalui setetes darah yang kita donorkan. Insya Allah…

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Q.S Al-Maidah : 32)

Menebar Kebaikan dengan Donor Darah Dompet Dhuafa
 
Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan…
Donor darah ternyata mendatangkan banyak manfaat. Tak hanya dirasakan oleh sang penerima saja, sang pemberi darah pun akan bisa merasakan manfaat yang sama. Bahkan menurut saya pribadi, manfaat serta kebaikan yang kita dapatkan sebagai pendonor akan jauh lebih banyak.

Menebar Kebaikan dengan Donor Darah Dompet Dhuafa
Saya saat donor darah | Sumber : Dokumentasi KSR PMI Unit UNS

Selain pahala yang mengalir karena membantu menyelamatkan nyawa seseorang, kesehatan pendonor pun bisa lebih terjaga. Kenapa? Karena sebelum proses pengambilan darah, akan ada serangkaian tes dan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi kesehatan awal pendonor. Mulai dari menjawab pertanyaan tentang riwayat kesehatan yang ada di formulir pendaftaran, hingga pemeriksaan tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, serta kadar hemoglobin (Hb) dalam darah.

Sementara setelah proses donor selesai, darah tidak akan langsung ditransfusikan begitu saja kepada pasien. Ada uji laboratorium yang digunakan untuk mengecek, apakah darah kita bersih dan terbebas dari penyakit maupun virus mematikan seperti HIV/AIDS, sifilis, hepatitis B, serta hepatitis C.

Nah, bukankah ini bisa diibaratkan sebagai sebuah balasan lain dari berdonor darah? Mendapatkan fasilitas tes kesehatan gratis setiap dua atau tiga bulan sekali?

Bisa dibilang, iya. Karena jika dari hasil uji laboratorum ditemukan virus atau penyakit dalam darah, PMI akan memberikan surat pemberitahuan kepada pendonor. Sementara jika calon pendonor diketahui kurang sehat saat dilakukan pemeriksaan awal, pihak PMI akan menolak niat baik sang calon pendonor dan menyarankan untuk datang kembali di lain hari. Selama kurang lebih sepuluh tahun berdonor darah, masalah inilah yang cukup sering saya alami. Gagal donor karena tekanan darah atau Hb tidak memenuhi batas minimal syarat pendonor darah. Sedih…

Menebar Kebaikan dengan Donor Darah Dompet Dhuafa

Satu lagi manfaat yang wajib saya tuliskan, yaitu tentang manfaat dari sisi psikologis. Manfaat ini mungkin memang tidak bisa dilihat dan dirasakan oleh orang lain, tapi percayalah, ada kebahagiaan serta kepuasan tersendiri yang muncul ketika saya bisa menyumbangkan darah secara rutin untuk membantu orang lain.

***

Bagaimana, sudah memantapkan niat untuk berbagi darah setelah sedikit mengetahui seluk-beluk dunia perdonordarahan yang saya tuliskan? Untuk kamu yang sehat dan memenuhi syarat, jangan lupa langsung datang dan mendaftar ke PMI terdekat, ya! Jika tidak memungkinkan, kamu bisa mencari info tentang agenda donor darah mobile. Donor darah mobile seperti ini biasanya diselenggarakan oleh sebuah lembaga atau instansi tertentu yang bekerjasama dengan pihak Palang Merah Indonesia (PMI). Nah, salah satu lembaga yang cukup rutin menyelenggarakan donor darah bersama PMI adalah Dompet Dhuafa.

Setiap 3 bulan sekali, beberapa gerai Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) serta Rumah Sakit Rumah Sehat Terpadu (RST) yang dikelola oleh Dompet Dhuafa, selalu rutin mengadakan donor darah dan berhasil menjaring banyak pendonor.

Menebar Kebaikan dengan Donor Darah Dompet Dhuafa

Berbagi Kebaikan bersama Dompet Dhuafa…
Siapa yang tak mengenal Dompet Dhuafa? Dua puluh enam tahun lebih berkiprah di dunia sosial, lembaga filantropi yang fokus pada pemberdayaan umat serta kemanusiaan ini memang telah memberikan banyak manfaat kepada masyarakat. Tak hanya Indonesia, bahkan manfaat dari program serta aksi sosial yang mereka hadirkan telah menjangkau lebih dari 2,4 juta jiwa penerima yang berada di 20 negara.
Menebar Kebaikan dengan Donor Darah Dompet Dhuafa
Infografis total penerima manfaat dari Dompet Dhuafa | Sumber : Ebook Public Expose 2020 Dompet Dhuafa

Melalui lima pilar program utamanya yang meliputi program pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial dakwah, serta budaya, dana dari para donatur yang terkumpul dialokasikan sesuai kebutuhan di lapangan dan disalurkan secara tepat sasaran. Mulai dari pemberian beasiswa, pelayanan kesehatan gratis, pengembangan UMKM, hingga pengalokasian dana untuk kegiatan sosial lainnya, seperti saat Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Sasakawa Peace Foundation untuk merevitalisasi Taman Gesang yang berada di Kota Solo.

Menebar Kebaikan dengan Donor Darah Dompet Dhuafa
Foto bersama teman-teman Blogger Solo, tim Dompet Dhuafa, serta perwakilan dari Sasakawa Peace Foundation, Jepang, saat mengikuti diskusi rencana revitalisasi Taman Gesang di Solo - Jawa Tengah

Kerja keras tim Dompet Dhuafa selama puluhan tahun inipun tidak sia-sia. Selain berhasil mendapatkan berbagai macam penghargaan, kepercayaan masyarakat terhadap Dompet Dhuafa pun terus tumbuh. Hal ini terlihat dengan semakin bertambahnya jumlah donatur serta donasi yang terkumpul. Di akhir 2019 saja, Dompet Dhuafa berhasil menghimpun dana bantuan sebesar Rp 378 milyar. Dana ini berasal dari 109.944 donatur, baik dari perorangan, komunitas, maupun perusahaan.

Nah, tertarik untuk menjadi salah satu donatur dan merasakan nikmatnya kebaikan berbagi bersama Dompet Dhuafa?

Langsung saja klik www.donasi.dompetdhuafa.org, kemudian pilih jenis donasi sesuai keinginan. Ada zakat, infaq/sedekah, wakaf, serta dana kemanusiaan. Setelah mengisi data-data pribadi, kemudian lanjutkan dengan memilih metode pembayaran. Kamu bisa membayar donasi dengan cara transfer antar bank atau menggunakan dompet digital. Mudah bukan?

***

Itulah sedikit cerita dan informasi tentang donor darah yang bisa saya bagikan. Semoga dari yang sedikit ini bisa menjadi sebuah pengingat, bahwa berbuat baik itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Asal memiliki niat dan kemauan yang kuat, Allah akan membantu kita dengan memberikan banyak jalan untuk berbuat kebaikan.

Besar, kecil, banyak, ataupun sedikit, tak menjadi masalah. Selama kebaikan itu dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah, insya Allah, Allah akan mencatatnya sebagai sebuah amalan yang bisa mendatangkan pahala untuk diri kita. Aamiin...

Selamat ber-fastabiqul khairat, para pejuang kebaikan!

***

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”



Referensi tulisan :
1. Ebook Public Expose 2020 Dompet Dhuafa
2. https://nasional.tempo.co/read/1082665/indonesia-butuh-darah-51-juta-kantong-per-tahun
3. https://vivahealth.co.id/article/detail/12353/banyak-manfaat-jadi-pendonor-darah
4. https://www.beritasatu.com/nasional/441051-28-persen-kematian-ibu-melahirkan-akibat-pendarahan

You Might Also Like

49 comments

  1. Sungguh mulai kamu mas Wisnu... apalagi saat2 ini PMI kabarnya kekurangan stok darah. Butuh banyak relawan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas. Biasanya kalau memasuki bulan ramadan, stok darah di PMI bakal menurun drastis. Nggak ramadan aja masih kekurangan, apalagi ditambah kondisi seperti sekarang ini; ramadan + masih ada corona.

      Semoga saja tetap banyak orang yang donor

      Hapus
  2. SMK saya kayaknya belum ngadain donor darah begitu. Baru mulai berlaku zaman kerja. Itu pun saya termasuk yang gagal lolos karena berat badannya kurang dari syarat. Ya ampun, kurus banget ternyata. Takut pingsan kata susternya. Pas saya lihat kantong darah yang diambil kan emang banyak. Apalagi saya juga sempat kena anemia. Waduh. Jadi ya sampai hari ini belum bisa ikutan menyelamatkan nyawa orang dengan donor darah.

    Kerenlah si Wisnu rutin berkontribusi dalam kebaikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di SMA ku dulu udah jadi program kerja rutin sih, Yog. Jadi tiap 3 bulanan ada donor darah.

      Wah, semoga cepat sehat. Aamiin 😊

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
    3. Bapak yakin, pak? Kalau udah yakin, nggakpapa sih pak. Monggo...

      Hapus
    4. Malah... Gini, ni, repotnya buka dashboard blog lewat hp. Malah kepencet remove content (T_T)

      Hapus
    5. Kenapa komentar saya dihapus hey

      Hapus
    6. Itu udah tak tulis alasannya, Man. Nggak sengaja kepencet "remove content" pas mau pindah menu di dashboard blog. Maaf-maaf. Wkwkwk

      Hapus
  3. saya tiap mau donor darah, nggak lolos fase pemeriksaan. katanya saya yang harusnya didonor, Wis. T.T

    BalasHapus
  4. Kayak mana yaa...kepingin ngedonor tpi q slalu tensine rendah mulu, 100/60/90/60 malahan jadi kliyengan 😞

    BalasHapus
  5. Aku dari dulu pengen ikut donor darah, tapi apalah daya bb masih kategori kuyus. Belom lagi kondisi dara masuk ke kategori darah rendah.

    Mantep sekalilah kak, bisa donor darah ampe 30 kali plus dpet piagam penghargaan tuh. Duh aku sekali belom nyoba nih, padahal aku anak pmi. Kapan-kapan, mungkin suatu saat nanti hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip, wajib nyoba. Anak KSR kah?

      Hapus
    2. iya nih anak KSR PMI Unsri, pada masanya. Sekarang udah non aktif organisasinya. Fokus skripsweet hehe

      Hapus
    3. Salam dari KSR PMI Unit UNS Solo ('_')7

      Hapus
  6. Pengin banget donor kak.. tpi apa daya.. BB kurang . .. wkwkw

    Semangat terus donornya ya kak.. hebat ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikut program penambahan berat badan dulu ini berati. Baru nyoba donor lagi :D

      Terima kasih

      Hapus
  7. Pertama kali ikut donor saat kuliah dan itu masih ngerasa serem ama jarumnya. :D

    Tapi setelah donor, ada rasa bahagia sih terutama kalo darah yang didonorkan bisa menolong hidup orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantep! Masih lanjut sampai sekarang mas?

      Bener sih ini. Berbagi darah bisa bikin happy :)

      Hapus
  8. Oh nooo ! Kok aku merasa ter-jleb gitu deh ambi kalimat yang bagian ini nih = kok cah pe em er ra wani nyumbang darah, e ini aku banget, tapi sayange emang aku ga masuk kriteria, soale aku ada tekanan darah rendah n anemia, jadi wonge gampang kliyengan ngunu loh

    Hoho

    Oh aku jadi ngerti deh bab bab pemisahan kantong2 darah per jenis darahe, #sambil manggut-manggut, soale dulu aku pertama kali sinau bab darah ki sebelum di pelajaran ipa, malah liwat majalah bobo, dan aku ngebayangin beberapa bentuk darah ki kayak ada sing bentuke keping2 ngono

    #e salfok wisnu jaman cilik alias sma ne kok oenyoek oenyoek temen nu, kayak chines apa cowok korea hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, itu juga iseng-iseng aja sebenernya ngomong gitu dulu. Eee, lha kok kami merasa tertantang. Yowes, nyoba daftar aja. Alhamdulillah kok lolos :)

      Majalah Bobo is the best teacher memang.

      Dan, anda adalah orang yang ke 6474848 yang mengatakan saya kaya chinese, mbak. *padahal aku keturunan jawa tulen* ckckck

      Hapus
  9. What? Satu kantong bisa sampe 3 nyawa?

    Gue dulu pernah pengen donor pas sekolah, tapi ga lolos gatau deh gara2 apa. Kayaknya berat badan apa ya. :))

    Kalo sekarang nyokap tuh rutin banget tiap berapa bulan sekali. Kayaknya dia punya kartu kayak lo gitu juga deh. Ckckck.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak yang nggak bisa donor karena masalah berat badan sepertinya ini...

      2.5-3 bulan biasanya, Di. Tapi aturan yang baru, sekarang 2 bulan sekali pun udah bisa donor lagi, ding. Jadi misal setahun rutin donor (dan diterima semua), bisa 6X itu.

      Hapus
    2. Wah dua bulan sekali bisa? Buset banyak bener ya ternyata. Kalo ke PMI gitu2 tuh gratis kan ya kalo kita mau donor? Apa bayar sih?

      Hapus
    3. Kalau mau donor, gratis, Di. Tinggal dateng aja. Modal tubuh sehat aja udah.

      Hapus
  10. Sampai sekarang saya belum pernah donor darah, soalnya takut aja mas Wisnu, gimana kalo darahnya kurang.😱

    Tapi sebenarnya dengan ikut donor darah malah jadi tahu kesehatan kita ya, kan di cek dulu kesehatannya, apakah pendonor sehat dan bisa diambil darahnya atau tidak.

    Semoga menang lomba ya mas Wisnu, semangat ya.😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang gimana maksudnya mas?

      Nah, iya. Sebelum pengambilan darah, calon pendonor bakal dicek dulu kesehatannya sama petugas PMI.

      Aamiin. Terima kasih mas :)

      Hapus
  11. Jujur, saya sampai saat ini belum pernah donor darah karena memang terasa seperti mengerikan. Apakah ada saran agar saya berani untuk berdonor?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Niat dan nekad aja mas. Dulu saya awal-awal gitu sih. Alhamdulillah, keterusan sampai sekarang. Hehehe

      Hapus
  12. Setuju banget dengan prinsip kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan...

    Makane, aku pengen dadi wong baik wae lah. 😊

    Sukses ya untuk lombanya. Layak menang sepertinya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wehehehe, sip mbak.

      Aamiin, terima kasih mbak.

      Hapus
  13. wah, Masyaallah.. bahkan udah dapet piagam penghargaan dari PMI.. keren mas..

    aku seumur-umur belum pernah donor darah. Selain takut, aku juga sering di tolak karena tekanan darah selalu rendah 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kapan-kapan bisa donor darah, Mbak Thya

      Hapus
  14. Hi mas Wisnu, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya :D

    By the way, saya sudah pernah beberapa kali donor darah tapi belum sampai sebanyak mas Wisnu jumlahnya, karena mostly saya donor ketika memang ada event yang dekat di lokasi saya dan saya tau penyelenggaranya atau donor untuk kerabat yang membutuhkan. Belum sampai tahap datang rutin pertiga bulan seperti mas Wisnu :D

    Salut sama mas Wisnu karena sangat rutin mendonorkan darahnya, semoga bisa membantu semakin banyak orang yang membutuhkan darah di luar sana ya mas :) sepengalaman saya sendiri, kalau di Korea (karena kebetulan saya stay di Korea juga), setiap kali kita donor darah 1 kantong, maka kita akan dapat free 1 kantong saat kita membutuhkannya (misal suatu hari nanti kita kecelakaan, dsb) ~ kalau di Indonesia sendiri ada sistem seperti itu kah mas? Hehehe, saya nggak pernah mempelajari lebih jauh soal sistem donor darah di Indonesia soalnya :D

    Thanks for sharing mas jadi bertambah ilmu saya, goodluck semoga menang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak. Mampir karena habis baca tulisan di blognya Mbak Nita yang mbahas tentang paketan dari Mbak Eno itu. Hehehe.

      Salut juga sama Mbak Eno, sudah berbagi darah untuk sesama.

      Setahu saya, ada mbak. Mirip sih. Misal suatu saat si pendonor butuh darah, nanti dapat fasilitas darah gratis dari PMI. Sama bisa berobat gratis juga di klinik PMI *setahu saya itu--cmiiw*

      Aamiin. Terima kasih mbak

      Hapus
  15. Aku pertama donor darah pas jaman kuliah yang diselenggarakan oleh KSR kampus. Setelah donor darah pertama akhirnya rutin donor saat kuliah. Setelah lulus kuliah malah ga rutin lagi seperti dulu.
    Pernah ditolak juga ketika mau donor darah karena Hb darah terlalu tinggi. Yaa akhirnya belum donor darah lagi. selain itu, aku juga sering mengajak teman-temanku untuk rutin donor darah. Karena ini sangat bermanfaat bagi orang lain.

    makasih mas wisnu atas infonya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren mas! Semoga masih bisa lanjut donor dan ngajak temen-temennya lagi.

      Ini mirip sama temenku. Dulu sempet cerita ditolak donor karena Hbnya terlalu tinggi. Sementara saya gagal donor karena Hb rendah xD

      Hapus
  16. aku ga berani lebih tepatnya gaboleh si
    soalnya tekanan darahku rendah gampang pingsan
    aku bantu doa dan support lain
    pas pmr dulu seneng tapi ikutan bawa bawa snack ato hansaplas dari PMI (habis lucu lucu gambar hansaplasnya hihi)


    dompet dhuafa emang OK masalah menampung dana semacam ini
    semoga lombanya menang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untungnya jadi anak PMR, dulu kalau habis ada agenda donor darah di sekolah, bisa dapet tambahan snack dari PMI. Hehehe.

      Aamiin, terima kasih, mas

      Hapus
  17. Pengalamanku mendonor dari cuma 2 kali 🙁. Bukan sengaja ngga mau tapi tensiku cenderung mudah turun.
    Padahal setauku dan juga dokter pernah kasi tau kalau manfaat mendonor darah itu salah satunya berfungsi mengurangi penggumpalan darah.

    Ulasannya keren, semoga posisi juara diraih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, semoga tensinya bisa normal lagi, Mas Him. Biar bisa donor darah lagi.

      Aamiin, terima kasih atas doanya...

      Hapus
  18. uwiiii kereeen
    udah lebih dari 25 kali dan masih istiqomah
    btw wisnu jaman muda ternyata imut loh
    entah sekarang dah, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, semoga bisa terus istiqomah donor darah :D

      Hapus
  19. jadi kesindir nih hehe. saya sampe sekarang belom pernah donor darah.. ga berani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dicoba lho, min. Nanti ketagihan :D

      Hapus
  20. Mulia banget mendonor darah untuk sesama. Apalagi saat keadaan pandemi PMI membutuhkan banyak darah Banyak yang membutuhkan. semoga mendapat pahala.

    BalasHapus

Yakin udah di baca? Apa cuma di scroll doang?
Yaudah, yang penting jangan lupa komen yes?
Maturnuwun ^^

Member Of

Warung Blogger

Total Viewers