بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
Pagi itu Tuhan seolah
mengisyaratkan senyum bahagia dengan menghadirkan cerahnya warna biru di langit
Kota Solo. Semburat cahaya jingga disela – sela awan putih dan gagahnya Gunung
Lawu menambah keelokan hadirnya hari baru kala itu. Kokokan ayam jantan bersahutan
dengan siulan gembira burung gereja menjadi saksi bahwa “Dia”, tak pernah lupa
dengan makhluk ciptaan-Nya. Berdosa rasanya jika kita hanya berdiam diri, tak
bersyukur dengan segala nikmat rezeki yang telah diberi.
***
Ijo? Iya.
Berair? Pasti.
Dingin? Banget.
Itu dia sedikit
gambaran tentang Air Terjun Studio Alam yang terletak di kaki Gunung Lawu,
gunung yang menjadi batas antara kita
berdua Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Air Terjun Studio Alam bisa
ditemukan ketika kita mendaki lewat jalur Cemoro Kandang, jalur pendakian
Gunung Lawu yang ada di Tlogo Dringo – Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar –
Jawa Tengah.
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
Sekitar jam 05.00 pagi kami berangkat menuju
Stasiun Purwosari. Lumayan lah jaraknya kalau dari kost’an yang letaknya di
sekitaran kampus UNS, ±8 km. Setelah 20 menit perjalanan yang penuh dengan
kemulusan tanpa aral rintangan menghadang, landing-lah
kita di tempat parkir Stasiun Purwosari. Karena parno kehabisan tiket, akhirnya buru-burulah jalan ke loket yang
letaknya sekarang di sisi barat Stasiun Purwosari. Kalo dulu sebelum ada
renovasi, barisan loket di sisi selatan stasiun.
“Mbak tiket nonton konser
Via Vallen masih ada?”
“Ada mas, mau yang
VVIP, VIP apa yang kelas festival?”
“Ehm…VVIP lah biar
bisa foto bareng,. 3 ya mbak”
“Okai mas….”
Oke, percakapan diatas tidak ada korelasinya
dengan blogpost kali ini XD.
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
![]() |
| Lampion di Pasar Gede Solo |
Bersyukur sekali rasanya aku bisa mengenal dan
tinggal di Kota Solo. Kota multikultural yang erat dengan budaya jawa serta
adat-istiadatnya. Belum lama memang. Kurang lebih baru berjalan 5 tahun ini.
Ya, 5 tahun. Waktu yang menurutku cukup untuk “berkenalan” dan mengeksplorasi
lebih dalam tentang Kota Bengawan. Kota yang ramah dan menawan.
Hijrahku ke Kota Solo waktu itu tak lain
karena aku melanjutkan studi di Universitas Sebelas Maret atau lebih dikenal dengan
UNS. Kampus yang sering membuat orang-orang salah menyebutnya menjadi
Universitas Negeri Solo. Selain dikenal dengan nilai
akreditasi yang bagus serta biaya kuliahnya yang murah, kampus dengan almamater
berwarna biru muda ini aku pilih karena letaknya tidak terlalu jauh dengan
daerah asalku, Purworejo. Biasa kan,
anak perantauan baru pengennya sering-sering pulang ke rumah :)
Suasana Kota Solo yang aman dan kondusif juga
menjadi alasan lain mengapa aku pergi merantau ke kota penghasil batik ini.
Meskipun terdapat berbagai macam etnis, suku dan agama, tetapi jarang
sekali terjadi keributan. Masyarakat Solo saling membaur satu sama lain
tanpa memandang perbedaan yang ada. Suasana “guyub rukun” ini bisa
kita lihat sehari-hari ketika berkunjung ke Solo, salah satunya saat Imlek
tiba.
Eloknya Pasar Gede
Solo saat Imlek
Ketika Imlek tiba, warga keturunan Tionghoa di
Solo akan memasang ribuan lampion di sekitar Pasar Gede. Lampion yang terpasang
di area Pasar Gede menjadi salah satu daya tarik bagi warga Solo untuk
mengabadikan moment Imlek yang hanya diperingati setahun sekali. Tanpa membedakan
etnis, suku dan agama, ratusan bahkan ribuan warga Solo tumpah ruah berselfie ria di bawah cahaya lampion. Mereka
akan mencari angle serta pose terbaik
demi memperoleh hasil foto yang maksimal. Selain 5000 buah lampion berwarna
merah, pihak panitia Solo Imlek Festival (SIF) 2017 juga memasang 12 lampion
shio Cina yang dinyalakan mulai dari tanggal 17 Januari hingga acara SIF 2017
berakhir.
Pasar Gede sendiri merupakan pasar tradisional
yang masih berdiri dan beroperasi hingga saat ini. Pasar yang berusia 87 tahun
tersebut menjadi saksi bisu terjadinya akulturasi budaya Tionghoa dan Hindu pada masa
Majapahit. Lokasi pemukiman warga Tionghoa yang berada di sekitaran Kali Pepe
serta berdekatan dengan tanah lapang yang sering digunakan untuk aktivitas umat
Hindu Majapahit kala itu, menyebabkan timbulnya interaksi jual beli diantara kedua etnis berbeda ini. Tahun
1927, Paku Buwono X yang menjabat sebagai Raja Kasunanan Surakarta
memerintahkan seorang arsitek dari Belanda untuk mendirikan pasar dan kompleks
perkantoran disekitar Kali Pepe. Pasar inilah yang menjadi cikal bakal
berdirinya Pasar Gede Solo yang selesai dibangun pada tahun 1930.
![]() |
| Suasana Jual-Beli di Pasar Gede |
Pasar Gede yang terletak dikawasan pecinan juga
menjadi simbol harmoni kehidupan sosial budaya masyarakat Solo. Disini kita
bisa melihat keberagaman para penjual dan pembeli dari berbagai etnis, suku dan
agama membaur tanpa mempermasalahkan perbedaan. Selain itu, tak jauh dari Pasar Gede, tepatnya 10 meter disisi selatan juga berdiri satu buah Klenteng Tien Kok Sie yang
digunakan sebagai tempat ibadah warga Tionghoa.
![]() |
| Klenteng Tien Sok Kie |
Solo
Imlek Festival 2017
Menyambut Imlek tahun 2017 panitia Solo Imlek
Festival (SIF) dengan tema Nusantara Satu : Merajut Kebhinekaan, Memperkokoh
NKRI, menyelenggarakan berbagai acara pendukung selain pemasangan 5000
lampion. Acara yang akan berlangsung dari Januari hingga Februari 2017 tersebut antara lain :
1. Donor
Darah
Kegiatan yang bekerjasama dengan PMI Kota
Surakarta ini dilaksanakan di Solo Paragon Lifestyle Mall pada tanggal 21
Januari 2017 dengan target perolehan sebanyak 200 kantong darah.
2. Pemecahan
Rekor MURI : Menulis Aksara Jawa Terpanjang 500 Meter
Panitia SIF 2017 bekerjasama dengan Fakultas
Ilmu Budaya UNS Surakarta akan menyelenggarakan Pemecahan Rekor MURI : Menulis
Aksara Jawa Terpanjang 500 Meter. Acara tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 5 Februari
2017 dan bertempat di Atrium Solo Paragon Lifestyle Mall. Nantinya,
masing-masing peserta yang sudah melakukan registrasi akan mendapatkan ruang
menulis seluas 1 meter2 dan memperoleh sertifikat serta media tulis
dari panitia.
3. Parade Barongsai & Perayaan Cap Go Meh
Dua event ini akan berlangsung di hari yang
sama yaitu pada Sabtu, 11 Februari 2017. Parade Barongsai akan dimulai pukul
10.00 pagi dengan rute pawai sepanjang jalan protokol Kota Solo. Sementara
perayaan Cap Go Meh dimulai pukul 18.00 dan bertempat di Pendhapi Ageng Balaikota
Surakarta.
4. Grebeg Sudiro
Grebeg Sudiro adalah perayaan hasil akulturasi
budaya dari masyarakat Tionghoa – Jawa. Kata grebeg sendiri merupakan tradisi
khas Jawa untuk menyambut hari-hari khusus seperti : Mulud, Syawal dan Suro.
Puncak dari perayaan Grebeg Sudiro ialah saat perebutan gunungan yang tersusun
dari ribuan kue kranjang serta kuliner khas Kota Solo antara lain bakpao,
gembukan, onde-onde, dan jamu. 14 jodang pembawa gunungan ini diarak disekitar
Kelurahan Sudiroprajan serta diikuti pawai dari kesenian Tionghoa dan Jawa.
Kesenian yang ikut dalam karnaval ini antara
lain atraksi barongsai dan liong, tarian dan pakaian tradisional, Reog Ponorogo,
atraksi para atlet wushu, serta marching
band dari Satpol PP Kota Solo, Gita Pamong Praja. Karnaval yang diikuti
oleh berbagai instansi dan beberapa unsur masyarakat ini sekali lagi
menunjukkan adanya rasa kebhinekaan yang terjadi di Kota Solo. Hujan yang
mengguyur saat itu juga tidak menyurutkan antusiasme warga Solo untuk
menyaksikan kemeriahan Karnaval Grebeg Sudiro yang dilaksanakan pada tanggal 22
Januari 2017.
Selain karnaval, Grebeg Sudiro memiliki 4
kegiatan lain untuk memeriahkan Solo Imlek Festival 2017. Acara yang juga
diselenggarakan dikawasan Pasar Gede dan Kali Pepe tersebut yaitu Lomba Kreasi
Lampion untuk SMA dan SMK se-Solo Raya pada tanggal 10 Januari 2017. Acara
kedua, Lomba Wisata Perahu Hias & Bazar Potensi UMKM dari tanggal 17 – 27
Januari 2017. Bazar UMKM yang bertempat di lantai 2 Pasar Gede sisi barat ini
diharapkan mampu mengangkat potensi UMKM di Kota Solo. Terdapat 70 stand pengisi yang terdiri dari stand
kuliner, fortune teller, shufa (seni tulis
kaligrafi huruf Cina), batik dan street
magician. Acara berikutnya ada Umbul Mantram, kegiatan kirab serta rebutan
gunungan yang sebelumnya telah diberikan do’a oleh 5 unsur agama di Kelurahan
Sudiroprajan. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 19 Januari 2017. Acara
terakhir pada Grebeg Sudiro berupa Pesta Kembang Api pada tanggal 27 Januari
2017.
Suasana Pesta Kembang Api
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
![]() |
| Captured by : Mas Wakhid |
Akhirnya setelah ratusan purnama berlalu,
Rangga menemui Cinta di sebuah café saat mereka liburan ke Jogja. Dua mantan
sejoli ini duduk saling berhadapan dengan canggung, hingga akhirnya Rangga
berani mengawali obrolan ditengah pertemuan mereka yang awkward itu.
“Apa yang saya lakukan
ke kamu itu ngga adil,” kata Rangga
“Rangga, yang kamu
lakukan ke saya itu…..J.A.H.A.T!,” balas Cinta dengan nada jutek sembari
menahan emosinya.
“…….…..” Rangga
kemudian tertunduk lesu, diam dan berujar dalam hati. “Iki intro macam
wuoppppooo”
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
Mlipir artinya pa’an
bang? // Itu lho judul lagu Betawi yang sering ada di tipi-tipi, masa kagak tau
lu? Mlipir-mlipir ini lagunya….Lagu lama ya tuan dari Jakarta…// Ya Allah,
lawakan tahun berapa iniiiiii -____-*males ah*
***
Langsung to the point aja yes? Ngga usah
mbahas mlipir itu apa hehe. So, buat sodara-sodara sekitar Solo yang butuh
sedikit referensi tempat piknik asik bin murah bisa lah luangkan waktu buat
baca post-post'an ini. Yaaa, paling lama cuma 6 menit kok. Fix 6 menit *misal lebih
dari 6 menit timpukin saya*
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
![]() |
| Gambar dari berbagai sumber |
Solo, Solo, Solo. Apa itu Solo? Solo artinya sendiri, tidak berdua,
bertiga, berempat, atau berlima. // Stop…..jangan mengumbar lelucon garing
lagi. // Fine, kita kembali ke jalan yang benar wahai sodara-sodara.
***
Solo adalah kota kedua yang cukup lama aku tinggali setelah Purworejo. Hampir 5 tahun aku tinggal di
Kota Solo. Sebenernya nggak lima tahun juga sih kalau di itung-itung. Anggep
aja dulu jaman kuliah ada libur semester ekstra panjang hampir 2 bulan buat
pulang ke rumah dan sempet bikin males ketika harus masuk kuliah di semester
baru. 2 bulan dikali 8 semester kuliah hasilnya 16 bulan, itu sama aja dengan 1
tahun lebih 4 bulan. Berarti jika kita
simpulkan, aku baru tinggal di Solo ±4 tahun 2 bulan 5 hari 8 jam 3 menit
45 detik. Cukup lama lah ya 4 tahun?
Naaaaah, dari 4 tahun 2 bulan 5
hari 8 jam 3 menit 59 detik tadi (detiknya udah nambah lho ya *catet*), ada beberapa
hal khas Solo yang belum pernah aku coba rasakan sensasi dan kenikmatannya *lebai*. Apa
saja itu? Monggo dilanjutkan baca post-post'an tentang wishlist berikut.
1. Naik Kereta Api Uap Jaladara
Kereta Api Uap
Jaladara atau lebih dikenal dengan Sepur Kluthuk Jaladara, adalah kereta api
wisata yang dijalankan dengan lokomotif uap tua buatan Jerman serta berjalan di
lintasan rel yang tepat bersisian dengan jalan raya utama di pusat Kota Solo.
Tahukah kisanak? Jaladara menjadi satu-satunya kereta uap di Indonesia dengan
lintasan rel di tengah kota yang padat akan kendaraan bermotor. Keren kan?
Terus kenapa aku
belum pernah naik kereta uap ini? Jawabannya sangat mudah, tiketnya lumayan mahal
coy! Dari beberapa sumber yang aku baca, harga tiket untuk warga Solo asli
sebesar Rp.30.000,- untuk warga Karesidenan Solo sebesar Rp. 100.000,- dan
harga untuk warga diluar Karesidenan Solo sebesar Rp. 200.000,-. Sedangkan jika kita
ingin menyewa dengan sistem rombongan, pengelola mematok harga sebesar Rp.
3.750.000,- untuk satu kali jalan. Lumayan kan uang
segitu kalau buat anak kostan, bisa buat makan, ngisi bensin, dan yang pasti buat beli kuota internet.
2. Berkeliling Solo denga Bus Tingkat Werkudara
Tahukah pembaca
yang budiman dan budimin, Bus Tingkat Werkudara asli Solo ini juga menjadi bus
city tour pertama di Indonesia. Bus berwarna merah terang mencolok mata ini mulai beroperasi
pada tanggal 20 Februari 2011 dan akan mengantarkan wisatawan berkeliling Kota
Solo dari ujung barat ke ujung timur.
Tiket eceran bus
Werkudara di hargai sebesar Rp 20.000,- sedangkan untuk sistem sewa dipatok
seharga Rp 800.000,- per 3 jam. Tiket bus bisa kita beli melalui gojek atau
grab. Siaaaaah kagak ding, di Solo belum ada grab. Untuk tiket bisa kita beli di
kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Surakarta. Kantor Dishubkominfo
Solo terletak di Jalan Menteri Supeno No. 7 atau di sebelah timur laut Stadion
Manahan. Nah lo, bingung kan timur laut sebelah mana? *kemudian nyanyi arah
mata angin jaman SD*
3. Mencoba Sensasi Railbus Bathara Kresna
Jadi top 3 dari
wishlist ini tentang transportasi wisata di Solo, dan yang ketiga
sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Kereta Jaladara. Namanya Railbus Bathara
Kresna. Railbus Bathara Kresna bisa dibilang
Jaladara versi modern plus murah. Kok bisa? Railbus buatan PT.
INKA Madiun ini merupakan moda transportasi wisata yang memiliki jalur rel yang
sama dengan Kereta Uap Jaladara, yaitu di Jalan Slamet Riyadi Solo. Macam tram ala - ala Eropa gitu. Jika
Jaladara hanya beroperasi di Kota Solo, Railbus Batara Kresna akan berhenti di
stasiun akhir Wonogiri. Tiket railbus dijual seharga Rp 4.000,- untuk satu kali
perjalanan. Jadi jika kita hitung untuk pergi-pulang dari Solo - Wonogiri atau
Wonogiri - Solo hanya Rp 8.000,-. Muraaaaaaaah.
Sebenernya dulu
sempet punya plan sama temen-temen
kuliah buat nyobain railbus kece ini, tapi berhubung banyak yang nggak bisa,
akhirnya batal, batal, dan batal sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
4. Ngeksis di Grojogan Sewu
Mungkin ini hal
yang cukup memalukan dari semua rasa penasaranku tentang Solo Raya. Meskipun
sering ada acara kampus di daerah Tawangmangu, tapi aku belum pernah sedetikpun
mengunjungi Grojogan Sewu. Air terjun berketinggian 80 meter ini terletak di
kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. Katanya, kita harus menuruni 1.250
anak tangga dulu untuk sampai ke lokasi air terjun. Selain terkenal dengan hawa
sejuk dan derasnya air, disini kita juga bisa bertemu dengan kera-kera liar yang sudah agak jinak. Mereka biasanya akan meminta snack kepada para
pengunjung, seperti kacang atau pisang.
5. Menelisik Budaya di Keraton Surakarta
Lah, katanya udah 4 tahun di Solo? Belum
pernah ke Keraton? // Kalo cuma lewat – lewat mah sering, tapi kalau masuk ke
keratonnya belum hehehe.
Nama Keraton di
Solo adalah Keraton Kasunanan. Keraton Kasunanan terletak di daerah Baluwarti,
Kecamatan Pasar Kliwon. Jika kalian mau berkunjung, patokannya cukup mudah.
Cukup naik Batik Solo Trans (BST) menuju Jalan Slamet Riyadi, kemudian turun di
halte sekitar Pusat Grosir Solo (PGS). Lanjut jalan kaki ke arah selatan menuju
Alun-Alun Lor khas Solo yang saat ini digunakan sebagai Pasar Darurat Klewer.
Bagi agan dan aganwati yang enggan berjalan kaki, bisa menggunakan becak yang
berjajar di sekitar jalan. Tipsnya, harus pandai-pandai nego dengan bapak tukang
becaknya, biar dapet harga murah. Setelah melewati alun-alun, lanjutkan ke arah
selatan lagi hingga memasuki daerah “supit urang.” Ikuti jalan satu arah
tersebut, dan taradaaaaas sampailah kita di depan Keraton Solo yang didominasi
dengan warna putih dan biru.
Bagi yang
penasaran dengan bagian dalam keraton (seperti saya ini -,-“), kita bisa
membeli tiket masuk dengan harga Rp 10.000,- saja. Namun jika ingin
meminimalisir pengeluaran, kalian bisa berkeliling di luar area keraton sembari
menikmati arsitektur kuno yang masih dipertahankan hingga sekarang. Cukup
instagrammable banget lho tempatnya buat foto-foto hits kamu.
6. Muncak ke Lawu
Aku bukan anak
gunung. Aku juga nggak ikut UKM pecinta alam. Tapi pengen “menuju puncak”
gunung di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini.
Pengen menuju puncak? Ikutan AFI sana bang. //
Yeaaaah yeaaaaah! keliatan kan udah tua, tontonannya AFI. Aku sih dulu jagoin
Rini sama Kia AFI. // Kalau aku Ferry sama Mawar, mereka kan digosip-gosipin
pacaran gituuuu. // STOP! Balik ke puncak Gunung Lawu gih! Malah bahas AFI. // Saaaaap komandaaaan!
***
Menurut gugel,
Gunung Lawu adalah gunung tertinggi nomer 6 di Pulau Jawa. Gunung dengan puncak
tertinggi bernama Hargo Dumilah ini memiliki ketinggian 3.265 mdpl. Jalur
pendakiannya yang terkenal yaitu via Cemoro Kandang yang berada di Kabupaten Karanganyar,
Jawa Tengah serta Cemoro Sewu yang berada di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Satu lagi keunikan yang terdapat di Gunung Lawu, yaitu sebuah warung makan
sederhana yang konon katanya menjadi warung tertinggi di Indonesia. Warung Mbok
Yem namanya. Terletak di atas 3000 mdpl, warung Mbok Yem
menyediakan berbagai macam makanan khas pendaki. Salah satu yang populer adalah
sego pecelnya. Wajib coba kalau bisa ke sana! *bulatkantekad*
7. Nostalgia DIKLATSAR KSR ke TAHURA
Baper kalau mau nulis
yang ini hihihi. Pertama dan terakhir kali ke Tahura itu ya pas jaman jadi
mahasiswa baru dan ikut DIKLATSAR KSR. Tahura
? KSR ? Apa itu bang? Oh iya bagi yang belum tahu, Tahura adalah singkatan
dari Taman Hutan Raya. Kawasan pelestarian alam ini juga terletak di
Tawangmangu, jadi lumayan adem-adem sejuk gitu hawanya. Sedangkan KSR singkatan
dari Korps Sukarela, sebuah UKM dibawah naungan PMI yang aku
ikuti selama kuliah. Dari hasil browsing-browsing, Tahura kini menjadi
tempat wisata andalan di Tawangmangu.
Terus kenapa
pengen kesini lagi? Ya pengen nostalgia aja. Mengenang masa-masa menjadi
“siswa” DIKLATSAR bersama 37 orang lainnya. Mengenang pertama kalinya menjadi
seonggok Wisnu yang “bisa” menggendong carrier 60 liter sambil longmarch yang menurutku cukup sangat
jauh. Makan nasi yang aslinya itu adalah beras berair. Menikmati Indomie nesting
yang lebih nikmat daripada Indomie buatan burjo, dan yang pasti mengenang “kedongkolan
dalam hati” karena “di gulung” disipliner berkali-kali. Komplit lah.
***
Sip! Itu tadi wishlist
yang pengen aku realisasikan selama di Solo. Bagi kalian-kalian yang pengen
mengajak seorang Wisnu, anak kurang piknik ini untuk mewujudkan 7 hal di atas,
boleh banget lho. Tak tunggu malah *ngarep banget ya Allah*. Yang seriusan
pengen ngajak ke pelaminan, eh…….gagal fokus - gagal fokus, yang serius pengen
ngajak main dan mencoba 7 hal tadi bisa hubungi saya via komentar, mention di Twitter,
dm ke IG, atau bisa juga kirim message ke Mxit gueh. Okeh beibeh? Okeeeeih?!
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
![]() |
| Gunung Andong Magelang 1726 MDPL |
“Ra tau wetrek’an o
mas?” // “Ngga’ pernah wetrek’an mas?”
(wetrek, weekend trekking ; semacam trekking yang dilakukan setiap akhir pekan)
“Weekend iki meh
ngecamp wis, ning Desa Genilangit Wonomulyo Magetan. Ayo melu” // “Weekend ini mau ngecamp wis, di Desa Genilangit
Wonomulyo Magetan. Ayo ikut”
“Insyaallah mas...aku gowo awak tok ya? Hahaha” // “Insyaallah mas…aku ‘bawa badan’ aja ya?
Hahaha”
Berangkat....
Kurang lebih seperti itulah percakapan
via Whatsapp antara aku dan kakak tingkatku di UKM yang aku ikuti selama
kuliah. Dari iseng-iseng bertanya tentang trekking di akhir pekan, akhirnya
berujung pendakian kecil-kecilan ke Gunung Andong yang terletak di Magelang –
Jawa Tengah. Rencana awal memang mau ngecamp ke salah satu desa yang terletak
di lereng Gunung Lawu di Kabupaten Magetan Jawa Timur, tapi plan itu akhirnya diubah karena beberapa
alasan.
Setelah meng-Insyaallah-kan
tawaran itu, akhirnya pendakian ke Gunung Andong dimulai. Sabtu, 24 September
2016, sekitar pukul 9 malam aku dan rombongan berangkat dari Solo menuju Magelang
menggunakan sepeda motor. Setelah menempuh kurang lebih 2 jam perjalanan dengan
rute Solo - Boyolali - Salatiga - Kopeng, kami sampai ke basecamp pendakian Gunung
Andong via Dusun Gogik. Sesampainya di basecamp, kami disambut warga lokal Dusun Gogik yang ramah. Biasanya
setelah kita memarkirkan motor dan registrasi, mereka akan menawarkan pendaki
agar singgah sejenak untuk menikmati teh hangat yang telah disediakan secara
gratis.
Pendakian kami mulai sekitar pukul
11.15 malam dengan suasana dingin-dingin syahdu setelah Magelang di guyur
hujan. Track-track awal yang berada disekitar pemukiman penduduk kondisinya
sudah berupa jalan setapak (kurang lebih 200 m), setelah itu kita akan memasuki
hutan dengan track tanah biasa. Jalur pendakian Gunung Andong via Basecamp
Gogik ternyata lumayan menantang. Selain jalurnya yang cukup terjal dan licin
(karena terkena hujan), ketika akan sampai di puncak, jalan akan mulai menanjak
dengan sudut kemiringan hampir 80°. Waktu yang kami tempuh untuk sampai di puncak Gunung Andong ±2 jam. Sekitar pukul 01.30 pagi kami tiba di puncak. Setelah mencari &
bertemu dengan rombongan teman-teman cewek yang berangkat sore hari, akhirnya kami
mendirikan tenda disisi timur Puncak Jiwa (Camping Ground) Gunung Andong.
![]() |
| Suasana Camping Ground Gunung Andong di Pagi Hari |
Demi memperoleh “sunrise moment”, pukul 04.30 kami
bangun dari istirahat. Setelah sholat subuh, aku dan rombongan menata matras
untuk sekedar duduk-duduk menikmati naiknya sang matahari dari sisi timur bumi. Selang
beberapa jam setelah sunrise, kami ber-9 mencoba untuk jalan-jalan ke puncak
dari Gunung Andong serta melewati “punggung sapi”-nya Andong yang cukup populer di dunia maya sebagai spot foto favorit anak-anak muda.
Namun karena berbarengan dengan turunnya kabut serta ramainya para pendaki,
kami membatalkan rencana ini. Kami putuskan untuk mengisi perut
terlebih dahulu sembari menunggu kabut hilang. Jika kalian tak mau repot atau lupa membawa bekal, ternyata di Puncak Gunung Andong telah tersedia semacam warung yang menyediakan logistik untuk para pendaki, seperti mie instan dan kopi.
![]() |
| Sunrise di Gunung Andong |
![]() |
| Sarapan Pagi Sumber : Dokumen Bersama |
Setelah menunggu kabut hilang, kami lanjutkan untuk jalan-jalan di puncak dan (tentunya) foto-foto di spot paling populer di Gunung Andong yaitu Punggung Sapi. Sedikit saran, berhati-hatilah ketika akan melewati daerah Punggung Sapi ini, karena kondisi jalan yang lumayan kecil serta berbatasan langsung dengan jurang tanpa pembatas.
Mari Pulang Kawan....
![]() |
| Let's Go Down Sumber : Dokumen Bersama |
![]() |
| Jalan Super Sempit Sumber : Dokumen Bersama |
![]() |
| Puncak Gunung Andong |
And It’s time to packing and go home, let’s go! Sebelum turun ke bawah, jangan lupa bawa sampahmu dan berdo’a. Untuk rute pulang, kami putuskan melewati jalur Sawit yang dilewati teman-teman cewek ketika naik. Dari info-info yang kami dapatkan, jalur via Sawit lumayan lebih “ringan” dibandingkan track dari Dusun Gogik. Dan benar saja, ternyata kondisi jalan telah dibuat “undak-undakan” menggunakan batu yang tertata rapi sehingga memudahkan para pendaki, khususnya pendaki amatiran sepertiku. Selain itu, “nilai plus’ lain dari jalur ini adalah jarak antara pos 1 dengan pos 2 tidak terlalu jauh, begitupun jarak antara pos 1 dengan gerbang masuk ke arah basecamp. Perjalanan turun kami tempuh dengan waktu yang lebih singkat, yaitu 1 jam saja.
![]() |
| Pos 2 : Watu Gambir |
"Study nature, love nature, stay close to nature. It will never fail you"
Belajar tentang alam, mencintai alam, dan tetap dekat dengan alam.
Hal itu tak akan membuat kamu gagal. (Frank Lloyd Wright)
Thank’s team, tak tunggu jadwal jalan-jalannya lagi ƪ(ˆ⌣ˆ)ʃ ƪ(ˇ▿ˇ)ʃ
Note :
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØْÙ…َÙ†ِ اارَّØِيم
| Kemegahan Masjid Al-Aqsha Klaten Sumber : Google Street View |
Masjid Al-Aqsha terletak di jalan utama Solo-Jogja, tepatnya di daerah pertigaan bangjo bekas terminal lama Klaten. Masjid bergaya arsitektur Timur Tengah ini resmi dibuka pada Hari Jum'at, 3 Juni 2016 dan aku baru bisa "mampir" kesini untuk sholat ashar & istirahat pada tanggal 15 Agustus 2016 lalu ketika perjalanan kembali ke Solo untuk merantau.
![]() |
| Kubah Masjid |
Setelah memarkirkan sepeda motor, aku langsung masuk ke area masjid untuk berwudhu dan melaksanakan sholat. Kondisi didalam masjid sangat nyaman dan bersih. Namun sayang, saat itu menara yang terletak di timur masjid ini belum selesai dibangun. Taman yang berada di depan Masjid Al-Aqsha juga belum tertata dengan sempurna karena masih dalam proses pengerjaan.
![]() |
| Desain pintu utama masjid |
![]() |
| Tiang penyangga serta pintu berukuran besar khas Timur-Tengah |
Sekian, semoga bermanfaat.





































