Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu

Kamis, April 26, 2018

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu

Sepertinya cukup banyak tulisan “berbau” Gunung Lawu di blog ini. Sebagai pelengkap biar makin mantap, saya tambah satu lagi, ya? Satu tulisan yang akan bercerita tentang 13 jam pendakian (naik turun – pergi pulang) menuju puncak Hargo Dumilah Gunung Lawu, yang bisa kalian nikmati hanya dengan duduk manis di depan layar komputer, atau tidur – tiduran di atas kasur sembari bermain smartphone, selama kurang lebih 10 menit saja.

10 menit saja – Percayalah!

***

Malam hari sebelum berangkat, kami sebenarnya berencana akan mulai melakukan perjalanan menuju pos pendakian Cemoro Sewu yang ada di Kabupaten Magetan – Jawa Timur, saat dini hari. Sekitar jam 4 subuh. Rencananya!!! Tapi tetep, ending – endingnya molor dan saya beserta rombongan yang terdiri dari 6 orang ini, baru bisa melakukan registrasi di basecamp pendakian, kurang lebih pukul 08.00 pagi.

Setelah proses registrasi selesai, kami lanjut berdo’a bersama dan mulai melangkahkan kaki melewati jalan berbatu menuju puncak Lawu. Inilah keistimewaan jalur Cemoro Sewu menurut saya. Selain jarak tempuhnya yang lebih pendek dibandingkan lewat Cemoro Kandang maupun Candi Cetho, jalanan di sepanjang jalur Cemoro Sewu juga sudah dilengkapi dengan susunan bebatuan yang cukup rapi dan tertata apik. Jalan setapak berbatu ini pun bisa kita nikmati dari pintu gerbang pendakian, hingga kawasan Sendang Drajat yang berada beberapa ratus meter dari Pos 5 Gunung Lawu.

Hmmm….mayan kan?

Kalau mendaki pas musim hujan jadi aman. Enggak takut sama trek tanah becek yang mungkin bisa bikin kita terpeleset manja ala – ala. Hehehe…Mau muncak ke Lawu pas malam hari juga nggak usah takut kesasar. Tinggal ikuti jalanan berbatu tadi, insyaallah – kalau Allah ngijinin, kita bakal sampai itu ke puncaknya Gunung Lawu yang berada di ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut ini.


Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
Trek pendakian sudah berbatu. Bebas becek.

Basecamp, Pos 1 – Pos 5…
Perjalanan dari gerbang pendakian Cemoro Sewu hingga Pos 1, kami tempuh selama 1 jam perjalanan. Setelah istirahat beberapa menit di Pos 1, kami melanjutkan langkah menuju pos selanjutnya. Dari Pos 1, trek mulai di dominasi dengan tanjakan yang cukup menguras tenaga dan lumayan sukses membuat nafas saya ngos – ngosan. Beberapa kali, saya dan teman – teman harus rela menghabiskan lebih banyak waktu untuk beristirahat di tengah perjalanan karena jalan yang menanjak ini.

2 jam berlalu, akhirnya kami berenam sampai di Pos Watu Gedheg yang menjadi Pos 2 untuk tempat istirahat para pendaki saat melewati jalur Cemoro Sewu. Berbeda dari Pos 1 yang bangunan shelternya masih cukup bagus, kondisi fisik shelter yang berada di ketinggian 2.579 mdpl ini bisa dibilang lumayan menyedihkan. Seng yang difungsikan sebagai atap untuk menahan panas dan tetesan air hujan mulai terlihat berkarat. Parahnya lagi, beberapa seng bahkan hilang dan tidak terpasang.

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
Noh, seng-nya pada ilang...

Istirahat selesai, kami berjalan lagi menuju Pos 3. Tetep, kondisi trek masih terus nanjak. Seingat saya, dari Pos 2 hingga Pos 3, kita tidak akan menjumpai jalanan landai yang menjadi idola para pendaki. Fiyuh…Tapi tenang, jarak dari Pos 2 menuju Pos 3 tidak terlalu jauh, kok. Hanya dengan 45 menit berjalan santai, kita akan menjumpai Pos 3 – Manis Rejo, yang berada di ketinggian 2.800 mdpl.

Sambil menunggu rombongan teman yang masih berjalan di belakang, saya sempat mendengar cerita dari Mas Wakhid yang sudah berulang kali muncak ke Gunung Lawu. Katanya, trek yang akan kami lewati setelah ini (Pos 3 menuju Pos 4) adalah trek yang lumayan banyak menguras tenaga. Kenapa? Ya apalagi kalau bukan karena kondisi jalan berbatu yang terus menanjak dan memiliki sudut kemiringan yang cukup besar. Fiyuh – fiyuh… *fiyuh kuadrat*

Dan benar, baru berjalan beberapa puluh meter saja dari Pos 3, pergelangan kaki dan paha saya mulai terasa pegal. Ini mah bukan “lumayan” menguras tenaga lagi, tapi “FIX SANGAT MENGURAS TENAGA”. Siang hari pas – pasnya matahari ada di atas kepala kita, ditambah jalan nanjak yang cukup terjal. Beuh, sukses bikin pegel kaki dan membuat kaos saya basah sama keringat lagi.

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
Trek dari Pos 3 hingga Pos 4. Sukses bikin ngos-ngosan...

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
 View di sekitar Gunung Lawu via Cemoro Sewu


Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
Salah satu tumbuhan yang bisa ditemui di Lawu yaitu adanya jenis berry-berry'an yang rasanya asem-asem manis.

Nah, solusinya ya, saya nggak mau maksa kudu segera sampai di pos selanjutnya. Santai. Jalan sebentar – istirahat. Jalan lagi – ngaso lagi. Nikmati saja setiap langkah dan waktu istirahat kita. Karena selain disuguhi pemandangan berupa tebing bebatuan dan vegetasi khas dataran tinggi, di jalur ini kita juga akan sering sekali bertemu dengan Jalak Lawu yang bersliweran terbang kesana – kemari. Kadang – kadang, si Jalak Lawu akan hinggap di batang pohon yang berada di sepanjang jalur pendakian. Dan kalau beruntung, burung berwarna abu-abu gelap dengan paruh orange cerahnya ini akan menghampiri para pendaki yang sedang beristirahat. Asik kan?


A post shared by #LAWUMOUNTAIN (@lawumountain) on


Dimana lagi coba, bisa sedekat ini sama burung liar yang hidup di alam? Di kebun binatang? Di penangkaran hewan atau tempat piknik hits kekinian? Yah, itu mah adanya kelinci sama sapi. Yakalee…


Setelah 1 jam berjalan santai dari Pos 3, sampailah kami di Pos 4 bernama Watu Kapur. Sesuai dengan namanya, pos ini memang sebuah kawasan dengan bebatuan kapur putih yang tidak terlalu luas. Yah, mungkin cuma cukup untuk mendirikan 2 buah tenda dum berukuran sedang, tapi nggak recommended, ding! Karena sisi kanan – kirinya langsung jurang.

B . A . H . A . Y . A

Cukup buat istirahat melepas lelah sama foto - foto untuk feed instagram saja. Satu lagi, kalau cerah dan nggak ketutup kabut, dari Pos 4 ini kita juga bisa melihat kawasan Telaga Sarangan dari ketinggian. Bonus lagi, guys…

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
Pos 4 : Watu Kapur

Lanjut naik lagi…

Dari Pos 4 Watu Kapur, kami melewati trek menanjak lagi menuju Pos 5. Tak berselang lama, setelah kurang lebih 10 menit berjalan, akhirnya saya dan teman – teman bertemu dengan jalanan landai yang sepanjang perjalanan kami idam – idamkan. Alkhamdulillah ya Allah….surgaaaaa. Bisa lari – larian ini, nggak jalan merangkak lagi. Hahaha…

Pecel Mbok Yem dan Puncak Lawu…
Trek landai yang saya sebutkan di atas membentang cukup jauh hingga Pos 5, Sendang Drajat, dan warung paling fenomenal di jagat pendakian Indonesia. Apa lagi kalau bukan Warung Pecel Mbok Yem.

Setelah ±6 jam perjalanan, pukul 14.30 sore kami sampai di warungnya Mbok Yem dan langsung memesan nasi pecel legendarisnya. You know what, akhirnya satu bucket list saya selama hidup di Solo tercoret lagi. Yes! CORET.

Baca Juga : Pengen Nyobain Ini di Solo Ya Allah…

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
Trek landai setelah melewati Pos 5

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
Warung Mbok Yem (Tenda Biru) dan kawan - kawannya

Kalau ada yang tanya masalah rasanya kek gimana, jangan tanya ke saya. Karena semua makanan yang berhasil masuk ke mulut saya itu rasanya cuma ada dua, enak dan enak bianget. Tapi jujur, nasinya waktu itu agak kurang sih. Masih agak keras – keras gimana gitu. Tapi kalau masalah pecel dan telor ceploknya, juara lah. Niquemadt Sedjati…

Harganya berapa, Nu?

Ini juga di luar perkiraan saya. Tak kira satu porsi itu mahal – mahalnya cuma 8000 rupiah. Tapi ternyata….malah 12 rebu. *Ngorek – ngorek dompet, oh untung ada duit* Yatapi kalau dipikir – pikir lagi, sebanding sih sama susahnya “kulakan” barang – barang masakan biar sampai ke warung tertinggi di Indonesia ini. Bayangin aja, kudu naik – turun gunung dulu biar bahan – bahan pecelnya Mbok Yem sampai di kawasan Hargo Dalem yang berada di ketinggian 3.150 meter di atas permukaan laut ini.

Perut kenyang, hatipun senang…, begitu kata si Ehsan “Upin – Ipin”

Nah, sebagai “ritual” akhir tektok Gunung Lawu via Cemoro Sewu kali ini, saya dan rombongan akan summit attack ke puncak Hargo Dumilah yang berjarak 115 meter dari warungnya Mbok Yem. Tapi sebelumnya, sholat jamak dhuhur sama ashar dulu ya ^^ he…

Jam 3 lebih seperempat sore, kami mulai meninggalkan Warung Mbok Yem. Sambil berjalan pelan, kami dihantui rasa was-was karena awan mendung disertai petir mulai terlihat di sisi timur Lawu. Rasa was-was kami semakin menjadi, tatkala kabut yang membawa tetesan – tetesan air juga mulai naik dan membuat jarak pandang kami terbatas. Kepanikan akan turunnya hujan itupun akhirnya hilang setelah saya dan kelima orang lainnya sampai di puncak Hargo Dumilah. Alkhamdulillah…

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
4 bapak - bapak dibelakang itu usianya sudah 50 tahun plus-plus lho...Ntaps! Masih kuat muncak

Perjalanan Turun…
Di puncak, saya dan rombongan tidak berlama – lama. Selain karena faktor kabut yang “menyerang” kami belum hilang, kami juga berlomba dengan waktu agar tidak terlalu malam saat perjalanan pulang. Pukul 4 sore, kami turun. Gumpalan awan, butiran air dari kabut yang singgah di dedaunan, serta langit jingga di atas Gunung Lawu kala itu, menemani lelahnya langkah kaki – kaki kami menuju basecamp Cemoro Sewu. Syahdu.


Dari puncak hingga Pos 3, kami berenam masih berjalan beriringan. Tapi setelah itu, akhirnya kami terbagi menjadi dua rombongan, yang masing – masing terdiri dari 3 orang. Rombongan pertama sampai di basecamp pukul 9 malam, sementara saya dan 2 orang lain, tiba 30 menit setelahnya.


Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
View Bukit Mongkrang dari Gunung Lawu

Trivia Jalur Cemoro Sewu Gunung Lawu :

Pertama : Masalah Harga dan Biaya (Update per 8 April 2018)
Tiket Pendakian : Rp 15.000,-
Tarif Parkir Sepeda Motor : Rp 5.000,-
Nasi Pecel Mbok Yem : Rp 12.000,-
Jika kalian nggak mau mendaki, tapi pengen camping atau sekedar selfa – selfie di dalam kawasan Cemoro Sewu, pihak pengelola memasang tarif sebesar Rp 10.000,- untuk camping, dan Rp 5.000,- jika kita ingin berfoto di taman Cemoro Sewu.

Kedua : Masalah Warung dan Logistik
Kalau menurut saya pribadi sih, sepertinya aman – aman saja jika kita ingin muncak ke Lawu via Cemoro Sewu, tanpa membawa bekal logistik apapun dari rumah. Kenapa? Karena dari basecamp pendakian, Pos 1, Pos 2, Pos 5, Sendang Drajat, dan Hargo Dalem (Warung Mbok Yem) sudah ada warung yang didirikan oleh warga setempat. Nah, tinggal milih mau belanja dimana, kan? Ya mungkin resikonya cuma masalah harga saja sih. Lebih mahal mungkin.

Tektok Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
Warung yang ada di Pos 5

Ketiga : Masalah Trek / Jalur / Jalan Mendaki
Trek Paling Aman nggak Banyak Tanjakan : Basecamp hingga Pos 1 dan Pos 4 hingga Warung Mbok Yem.
Trek Paling Jauh dan Bikin Baper : Pos 1 hingga Pos 2.
Trek Paling Pendek : Warung Mbok Yem hingga Puncak.
Trek Paling Bikin Ngos – Ngosan Nggak Karuan : Pos 3 hingga Pos 4.
Trek yang Bikin Bahagia : Semuanyaaaa….

You Might Also Like

61 comments

  1. Enak ya. sudah ada warung mbok yem. Klo harganya sampe 5 kali lipat juga masih wajar menurutku, secara bawa diri dan minum saja sudah susah, ahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, misal kehabisan logistik di puncak pun insyaallah perut kita masih aman. Karena udah ada Mbok Yem.

      Hapus
    2. Terus ini namanya pendakian manja :)

      Hapus
  2. Anak 👦 saya tuh hobinya naik gunung, dan gunung lawu salah satunya, sayangnya dia kagak suka nulis seperti saya, jadi hanuh bisa foto foto saja.

    Btw, mas tri sudah mendaki berapa gunung sejauh ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ajak kerja sama, Kang. Anaknya yang mendaki, akang yang nulis ceritanya..hehe

      Hapus
    2. Boleh juga nih idenya. Simbiosis mutualismenya dapet. Bapaknya bisa dapet bahan blogpost, nah lewat tulisan Kang Maman, anaknya bisa lebih terkenal. Hehe...

      Baru tiga gunung, kang...sini mah cuma pendaki "ikut-ikutan" aja. Baru muncak kalau ada yang ngajak

      Hapus
  3. Ah aku dulu pertama naik gunung ya Lawu. Udah gitu naiknya dari Sewu juga, Mas.
    Dulu ngecampnya di Pos 3. Hahaha. Emang yang berati tuh 3-4 ya. Naiknya bikin ngos-ngosan, tapi pas turun sukses bikin dengkul gemeteran. Nggak bisa lari juga.
    Duh aku jadi pengen nulis juga pas ke Lawu nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, kemaren pas jalan turun juga ini kaki udah berasa ngga kuat gitu. Gemeteran semua. Capeknyaa....
      Tulis, pengen baca cerita Lawu via Cemoro Sewu versi mu :D

      Hapus
  4. Bisa dibilang warung pecal tertinggi juga tuh warung mbok yem nya.

    Harganya pun masih wajar banget, malah tergolong murah tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di daerah Solo mah standarnya paling satu porsi cuma 8000an mas. Tapi ya itu, bawa bahan-bahan pecelnya sampai ke atas Lawu aja susahnya minta ampun. Sebandinglah kalau dihargai 12 ribu :) *hidup mbok yem*

      Hapus
  5. Pengalaman trekking seru,Tri ...
    Enak ya bisa barengan temen-temen ke gunung.
    Kalo sampai kenapa2, terpeleset misalnya ... kan ngga perlu terpeleset manja ala-ala 😃 , ada yang langsung sigap menolong.

    Aku kesengsem sama kesempatan burung Jalak Lawu dan pedagang mbok Yem ..
    Salut banget jalanin usahanya sampai di ketinggian lokasi seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konon katanya, Mbok Yem itu jadi pelopor, alias orang yang pertama kali buka warung di Gunung Lawu dan masih buka sampai sekarang. Memang patut di acungi jempol usaha beliau. Salut juga!

      Hapus
  6. Aku baru pulang beberapa minggu lalu dari Merbabu, sayangnya kehujanan dan badai :D
    Next kesini lah, setidaknya baca ini jadi tahu gambarannya..
    Btw, Mas Wisnu nama saya di blogwalking list ganti dong link blognya, ganti yang diary, yang itu kan udah nggak aktif..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pengen juga itu ke Merbabu, viewnya nggak kalah keren. Tapi nunggu diajak temen wae ding kesananya. :D

      Siap! Nanti kalau selesai bales komen langsung cus ganti

      Hapus
  7. Yey! Kolom komentarnya kelihatan..berarti lagi ga ngambek..

    Tau aja..lagi naik Lawu sambil tiduran di kasur..dengerin musik..dan ga sampe 10 menit. Hebat kan..ha..ha

    Nggak nyangka, ada yang jual pecel di ketinggian. Apa dia nanem sayur2an nya di atas juga? Lah..klo nggak, kebayang capeknya pas belanja sayuran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar pertama kudu lewat komputer mbak, baru bisa muncul itu kolom komentar selanjutnya kalau di buka lewat hp. Maklum tema gratisan, jadi ya gitu. Suka error.

      Pas kemaren kesana, kayaknya nggak nemu itu ladang sayuran disekitaran warung Mbok Yem. Denger cerita sih, katanya udah ada orang yang siap "ngedrop" barang ke Mbok Yem nya langsung mbak. Semacam dropshipper gitu mungkin kalau di dunia perbisnisan ^^"

      Hapus
  8. lah, kukira nginep :D

    btw, aku juga pengen ngerasain pecelnya Mbok Yem
    kok nggak difoto sih? kan aku juga pengen tau wujudnya XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak ngecamp kita. Jadwal padet *sok-sokan*

      Lupa dan nggak kepikiran. Inget pas udah habis dan masuk ke perut. Maklum, saking capek dan lapernya kita. Hahaha...

      Hapus
    2. Yaudah, berangkat lagi ke sana, demi foto pecelnya mbok yem

      Hapus
  9. Itu kenapa berangkatnya molor bgt, hhh
    Btw aku yg lg nggak enak badan trus baca tulisanmu yg ini justru jd merasa nikmaat sehat tuh bener2 luar biasa, susah didapat bgt. Yakali mana bisa kl lg sakit mendaki jalan bebatuan melewati pos2 gitu.. Duh ya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasa, ada satu dan lain hal :)
      Alkhamdulillah berati ya, lewat sakit jadi tau apa itu nikmat sehat *lah jadi dakwah*

      Hapus
  10. Saya kok tertarik sama Watu Kapurnya ya? Dari fotonya yang bagus jadi pengen juga. Ngeliatin jurang-jurangan gitu mas Wisnu. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang bagus sih mbak. Daripada Pos 1-2-3, view landscape dari Pos 4 Watu Kapur lebih keren.

      Hapus
  11. Saya membacanya sampai terkekeh-kekeh, diatas puncauk ada warung pecel, welah itu mbok yem nya kreatif banget ya? Pasti dagangnnya laris manis ,walau tergolong mahal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kreatif mas, beliau jadi pelopor berdirinya warung-warung lain di Gunung Lawu.
      Laris, karena memang sego pecelnya Mbok Yem ini sudah melegenda di dunia para pendaki. Denger-denger sih, belum sah ke Lawu kalau belum mampir & nyicipi sego pecelnya Mbok Yem

      Hapus
    2. Saya jadi pengen daftar jualan disana ah :)

      Hapus
  12. Aku belum pernah naik lawu mas, apalagi cicipin pecel mbok yem. Padahal lokasinya juga ga terlalu jauh dari semarang.
    *tiba-tiba sedih

    Jadi sampai basecamp lagi jam berapa mas...?
    Tektokan thu emang keren 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agendakan, langsung mas. Pancal gaspol - meluncur ke Lawu.
      Saya jam setengah sepuluh malem baru sampai basecamp Cemoro Sewu

      Hapus
  13. Saat orang-orang ngomongin pecel mbok yem. Dulu alu pas ke lawu warungnya pas tutup. Gagal menikmati pecel di warung pecel tertinggi 😢

    BalasHapus
  14. Terakhir hacking setahun yang lalu, dan skrang sudah 5 kg berat badan naik...
    Boleh lah ini jadi referensi buat nanti planing nanjak lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hacking? Trekking mungkin mas?
      Kalau hacking mah, istilah buat mbobol data komputer dari orang lain *bener kan ya, saya?*

      Hapus
  15. wah ada yang jual nasi pecel yah dengan trek begitu kang?kok aku mikir gmn kesitunya?
    well mantap euy jalannn terus mumpung masi muda yak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada mbak. Bisa dibilang komplit malah itu warung, nggak sekedar jual pecel aja. Ada aneka jajanan dan minuman juga.

      Hapus
  16. wah ini kuncennya gn lawu hehe
    aku belum bisa naek gunung dulu habis insiden tangan th lalu
    cuma gunung ini aku suka banget apalagi cerita pesugihan
    berr-berrian itu petikable sayang rasanya masam
    klo harga warung yg 5x lipat wwajar sih mas, lah nggotongnya
    duh kapan aku bisa naek ke puncak gunung tinggi tinggi sekali
    kan mupeng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, udu mas. Aku udu kuncen e Gunung Lawu. Ilmu ku tentang per-Lawu-an masih kurang banyak. Haha... Tangan e kenapa mas? Habis pulih, bolehlah coba jalan-jalan ke daerah tinggi. Nggak kudu gunung sih, bukit-bukit juga oke.

      Hapus
  17. hai Nu, dari dulu aku pengen ke Lawu, ga sempet2 kl pas di Solo. Emang perlu direncanain sih ya, apalagi tau bs tek tokan gini, niceee. Ada ya btw yg jual pecel di puncak gitu? Mana fotonya? *ngarep

    O iya nu, buat lomba destinasi wisata jembernya, ga harus yg pernah ke TBS atau pelesir ke Jember, mau kasih tips atau rencana berkunjung jg boleh. Itu aku sbg panitia, bukan peserta, cuz kepoin link nya ya, masih sampe 25 Mei :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, perlu. Biar selama perjalanan muncak, kita lebih aman dan nyaman. Istilah jawanya mah, biar nggak grusa-grusu. Nggak ada. Inget - inget pas pecelnya udah habis - masuk perut. Kapan-kapan lah, kalau mampir ke Mbok Yem lagi.

      Baik mbak. Semoga *kalau niat*, saya ikutan lombanya. Mayan kalau menang, hadiahnya bisa buat THR Lebaran :D

      Hapus
  18. Waaa mas, mbok nulis khusus tentang Pecel Mbok Yem, menarik banget :))
    Emang Lawu itu satu-satunya gunung yang punya warungnya mas? ada yang lain nggak?

    View Bukit Mongkrang dari Gunung Lawunya cantik banget dah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa nggak kepikiran kesitu ya? Fokus ke Mbok Yem nya aja^^
      Yatapi, karena memang tujuan utamanya muncak, jadi kayaknya waktu buat "wawancara" sama Mbok Yem bakal sedikit banget mbak. Jadi belum sempet buat tulisan khusus Pecel Mbok Yem.

      Dulu sempet ke Andong, di puncaknya juga ada warung mbak. Terus sempet baca-baca di internet, di sepanjang jalur pendakian beberapa gunung di Indonesia juga ada warung yang buka sih. Semeru contohnya.

      Hapus
  19. Jadi kalau ke Gunung Lawu nggak perlu pusing mikirin makanan ya. Btw, viewnya cakep.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Ada banyak warung di jalur pendakiannya sih. Insyaallah aman *kalau warung-warung ini buka tapi ^^*

      Hapus
  20. Saya pertama ndaki itu ke Andong mas, nggak ngos-ngosan banget. Jadi alkhamdulillah nggak trauma. Nagih malah. Hehe...

    Beneran ada warung. Jadi insyaallah aman kalau nggak bawa bekal. Tapi buat jaga-jaga, ya paling nggak bawa air minum buat ngilangin haus sepanjang perjalanan :)

    BalasHapus
  21. Edan, dengkul racing dah naik Lawu via Cemara Sewu tektok..
    Padahal rutenya nanjak terus..

    Kalo saia udah jarang lewat Cemara Sewu, soalnya selain nanjak terus, jalurnya lewat dalem hutan sampe Sendang Derajat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, mas e wis katam muncak nangdi-nangdi. Aku belum pernah mas, baru kali ini lewat Cemoro Sewu. Tapi ya memang kesel e. Sampai bawah langsung gemeteran semua ini kaki :D

      Hapus
    2. Besok lagi coba via jalur Candi Cetho ms...
      Menurutku itu jalur terbaik untuk mendaki Lawu...

      Hapus
    3. Cetho udah pernah mas, tapi nggak sampai puncak. Cuma sampai Bulak Peperangan tok. Yang belom pernah itu lewat Cemoro Kandang.

      Hapus
    4. Wah, padahal sebentar lagi jalurnya udah nggak begitu nanjak habis Bulak Peperangan...
      Habis itu kan padang savana...

      Kalo Cemara Kandang jalurnya nggak begitu nanjak, tapi lebih panjang.

      Hapus
  22. masyaAllah.... Aku cuam dengerin pengalaman teman yang pernah kesana... tapi aku belum kesnana

    BalasHapus
  23. Apakah Mbok Yem itu udah mirip Warung Bi Eem di cerita Dilan yang multifungsi sebagai sebuah warung? Gokil sih kalau Warung Mbok Yem itu pelopornya dan masih stay sampai sekarang.

    Ngomong-ngomong, belakangan ini banyak travel blogger yang mendaki ya? Emang lagi musimnya naik gunung apa gimana? 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang pasti bukan jadi basecamp buat ngrencanain tawuran macam di Dilan lah. Hehehe. Apa iya? Kurang ngikutin juga kalau masalah tren mendaki di kalangan travel blogger. xD

      Hapus
  24. Harga 12 ribu itu masih termasuk murah buat saya, Mas Wis. Yah, harga-harga di Jakarta terasa lebih keras~ Wqwq. Apalagi kan itu adanya di atas gunung. Anggaplah tambahan harga karena bawa barang-barangnya dihitung. :)

    Enak juga udah bisa coret daftar yang telah tercapai. Saya belum coret apa-apa nih. Udah mau pertengahan tahun pula. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya bener juga sih kalau dilihat perjuangannya buat bawa bahan-bahan pecel biar sampai di puncak Lawu, berat juga. Kalu di warung-warung biasa di sekitaran Solo mah ya pling 8000an. Wkwkwk, usaha lagi. Biar ada wishlist yang bisa di coret tahun ini. Mangats!

      Hapus
  25. Kalo aku sepertinya pilih ngecamp aja daripada tektok, soalnya gak kuat deh kayanya. Kalau ada yg jualan gitu di pos jadi enak gak usah bawa logistik banyak haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang mbak. Jadi punya waktu buat istirahat yang cukup buat nyiapin tenaga pas turun. Nggak capek-capek banget. Yes, bawa secukupnya. Nanti tinggal nambah logistik di perjalanan pas ndaki.

      Hapus
  26. Ku penasaran, Mbok Yem itu emang tinggal di warungnya ya? Atau tiap hari naik turun juga?

    Btw entah kenapa baca artikel ini yg ada di pikiranku novel Aroma Karsanya Dewi Lestari yang settingnya lawu, ada jalak, manisrejo, dll. Jadi pengen ke sini juga nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Isu-isunya Mbok Yem itu cuma turun ke rumahnya kalau pas lebaran doang mbak. Jadi ya bisa di itung cuma setahun sekali. ((katanya sih)).
      Wah, saya belum pernah itu baca novelnya Mbak Dewi ^^

      Hapus
  27. Mas kalo lewat cemoro sewu ketemu sabana ( bulak peperangan ) gak ?

    BalasHapus

Yakin udah di baca? Apa cuma di scroll doang?
Yaudah, yang penting jangan lupa komen yes?
Maturnuwun ^^

FIND BLOGPOST

Total Viewers