Diajak Nawar Harga “Embak – Embak” di RRI Solo. Bikin Deg – Degan!

Jumat, September 14, 2018

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Disclaimer : Tulisan ini hanya sekedar cerita pribadi saya saat diajak menyusuri beberapa gang dan bertanya tarif dari embak – embak di kawasan RRI Solo. Inget, BERTANYA TARIF SAJA. Enggak sampai kencan beneran :)

Berhubung di blogpost Pantai Congot bulan Agustus lalu sempat sedikit menyinggung tentang wisata malam di Jogja, akhirnya, saya jadi kepengen cerita juga tentang pengalaman receh saya saat diajak blusukan ke satu kawasan wisata malam yang ada di Kota Bengawan,

UNTUK PERTAMA KALINYA.

Sebenarnya ini cerita lama. Sepertinya terjadi sekitar tahun 2014, dimana waktu itu, saya masih berstatus sebagai seorang mahasiswa hampir tua di Kota Solo. Saya lupa tepatnya hari, tanggal, atau bulan apa, tapi yang jelas, blusukan malam hari yang berakhir dengan menawar harga “embak – embak” ini terjadi setelah saya dan teman – teman pulang dari take video untuk tugas kelompok mata kuliah Audio Visual 1 di daerah Boyolali – Jawa Tengah.

Namanya Gagah, Bobby, dan Ardy. Tiga orang inilah dalang dibalik blusukan malam dan kejadian menawar harga “embak – embak” yang sukses membuat saya deg – degan, sepanjang melewati gang – gang sempit disekitar kawasan RRI Solo. Ya, keadaaan gang – gang sempit di RRI Solo ini, sepintas mungkin mirip dengan Sarkem di Jogja, atau Kalijodo di Jakarta dan Gang Doli di Surabaya, dulu, sebelum dialih fungsikan seperti sekarang. Sebuah jalanan yang tidak begitu lebar dan dipenuhi dengan para “pekerja” wanita serta hotel esek – eseknya.

Sebagai seorang pendatang yang hampir 3 tahun di Solo (waktu itu), tentu saya tak kaget ketika mendengar cerita, jika daerah RRI menjadi salah satu kawasan lokalisasi di Kota Solo. Saya pun sejatinya juga tak pernah berniat untuk mengetahui lebih jauh lagi seperti apa aktivitas malam hari di kawasan ini. Apalagi sampai mengunjunginya. Nggak berniat sama sekali. Intinya, “Oke, kawasan RRI Solo itu menjadi daerah lokalisasi.” Dan yang ada dipikiran saya saat itu, “Kondisinya pasti mirip dengan gambaran dari sebuah lokalisasi pada umumnya yang sering muncul di berita – berita televisi. Gelap, remang – remang, dan semacamnya.”

FIX! Nggak mau kepo – kepo lagi. Takut. Ehe…

Tapi…

Prinsip serta niatan untuk tidak mengunjungi RRI Solo, akhirnya gagal saya jalankan karena keisengan dari Gagah, Bobby, dan Ardy. Entah awalnya kami membahas masalah apa sepanjang perjalanan pulang dari Boyolali menuju Solo, hingga akhirnya mereka bertiga mempunyai ide untuk mengajak saya menyusuri beberapa gang di kawasan RRI yang lokasinya berada persis disebelah selatan Stasiun Solo Balapan.

“Rausah wae. Langsung balek kost. Plissss…”

Kalian tau, apa reaksi mereka bertiga ketika mendengar kalimat permohonan saya di atas?

NGEKEK.

“Asyeeeem,” batinku.


Saya yang hanya mbonceng di jok belakang, mau tidak mau, ya, hanya bisa pasrah mengikuti laju sepeda motor yang dikendarai oleh Gagah. Dengan kecepatan rendah, dua motor matic yang membawa saya dan teman – teman, akhirnya mulai memasuki jalan utama di depan gedung RRI Solo.

Sepi.

Saya sempat bersyukur ketika melihat kondisi jalanan yang “sepi” dari para “pekerja”. Dalam hati saya berucap, “Alkhamdulillah aman”. Tapi ternyata, rasa syukur saya sirna seketika. Tanpa komando, Gagah yang berada di depan, langsung melanjutkan safari malam itu dengan memasuki gang – gang kecil yang menjadi pusat aktivitas dari embak – embak “pekerja” yang saya maksud. Dan ternyata benar, saat sepeda motor baru melewati gapura gang saja, kami sudah menemukan beberapa bapak – bapak yang stand by di depan pondokan yang menawarkan jasa para embak – embak “pekerja”. Tak berselang jauh dari para bapak, kami juga melihat sesosok embak berpakaian minim yang tengah khusyuk duduk di atas sepeda motor menunggu ajakan untuk berkencan.

Pemandangan embak - embak seperti ini akan mudah sekali ditemui ketika kita menyusuri gang di kawasan RRI Solo. Gaya “menunggu” mereka pun bermacam – macam. Ada yang duduk di atas motor, seperti yang saya temui pertama tadi. Ada yang hanya berdiri sembari memanggil “mas” ke setiap laki – laki yang melewati gang. Ada juga yang sekedar menyenderkan tubuh mereka ke dinding pagar dan tembok rumah. Bikin merinding dan deg – degan pokoknya.

Nah, dari sekian banyak embak – embak di kawasan RRI, yang cukup sukses membuat saya makin deg – degan tak karuan adalah sosok embak – embak yang tengah asyik memainkan ponsel di depan sebuah rumah. Kenapa? Karena embak inilah yang tiba – tiba ditanyai tarif untuk sekali kencan oleh Gagah.

Beneran ini, anak – anak mau nyewa embaknya? Ya Allah, tolong Baim ya Allah.

Saya yang sudah panik dari tadi, mulai berpikir dan membayangkan hal yang tidak  tidak. Takut kalau tiba – tiba ada operasi dari polisi, kemudian kami berempat tercyduq dan diangkut pakai mobil pick-up polisi, mana waktu itu saya pakai jaket identitas UKM yang saya ikuti di kampus lagi. Lah, mau ditarok dimana ini muka saya.

“Piro mbak?”
“150, mas.”

Deg!

Saya kaget ketika sang embak menyebutkan nominal harga untuk sekali kencan. Semurah itu kah, harga dirimu, mbak? Hanya dengan harga 150 ribu, engkau rela menyewakan tubuhmu untuk diajak berkencan dengan para pria. Rasa – rasanya, uang 150 ribu yang engkau dapatkan tak akan pernah sebanding dengan beratnya resiko yang siap menyerang tubuhmu. Bahkan, tarif 150 ribu ini pun katanya masih bisa ditawar dengan angka yang lebih rendah lagi jika si embak mau. Ya Allah…sedih.

Sumber : www.jw.org

Setelah mencoba pura – pura menawar harga dan tak kunjung terjadi kesepakatan, Gagah akhirnya menarik gas dan memacu sepeda motor keluar dari gang terakhir yang kami kunjungi malam itu.

“Piye, Wis, tertarik ra?”

Untuk mengurangi rasa deg – degan dan was – was yang belum sepenuhnya hilang, saya pun menimpali pertanyaan tadi dengan jokes receh :

“Lah, nek gur satus séket (150), sesuk tak pancal dewe.” // “Lah, kalau cuma 150, besok gue jabanin sendiri, dah.”

“HUA…HA…HWA…HAA….”

Sok – sokan banget ini, aslinya juga enggak berani kalau suruh mampir ke RRI lagi. Wkwkwk…

“Pengen sing luih yahui, ra?”
“Enek to?”
“Enek kui, nang halte wetan SMA 2”

And you know what? Ternyata itu tempat mangkalnya para wanita jadi – jadian alias pria bertulang lunak. Asyeeeeem… kena double kill saya malam itu.

***

Buat Gagah, Bobby, sama Ardy, makasih lho ya. Akhire aku dadi rodo nakal sitik. Ngerti hal – hal beginian. Kalau nggak sekelompok sama kalian, tulisan RRI Solo di malam hari ini mungkin tidak akan pernah tayang di blog saya. Hahaha…

Buat yang nggak ngerti percakapan Bahasa Jawa di tulisan ini, maaf – maaf, ya. Saya nggak ngasih subtitle Bahasa Indonesianya. Silakan dicari sendiri.

You Might Also Like

29 comments

  1. gue masih penasaran tuh sama artinya yang pas percakapan pake bahasa jawa. jadi yang lu temui tadi itu cewe jadi-jadian gitu ya?
    gue juga penasaran pengen usil gitu juga jadinya. sekedar nanya doang. hahahaha

    ya pantes temen-temen lu ktawa, karena pnya temen polos banget. wk

    ini beneran ceritanya abis disini aja nih? ga ada kejadian selanjutnya?
    adegan ditangkep polisi gitu. enggak ada ya?
    yaaah~

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang jadi-jadian itu yang pas di halte, kalau yang di kawasan gang-gang RRI nya cewe tulen semua.

      udah sampai sini doang. orang habis keluar dari gang, kita berempat langsung ngacir pulang xD

      Hapus
  2. Seru tulisannya ..apalagi jalan jalan ke RRI saya pengen juga kapan kapan berkunjung

    BalasHapus
  3. Jadi tau tarif ginian. Seumur hidup saya belum pernah ke tempat kayak gitu, bahkan buat ngintip pun gak berani. Takut tiba-tiba ada razia, bener. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, kan, bener. Bayangan kita sama, takut kena razia. Lha kalau kemudian masuk 86 kan, tambah berabe, ye? xD

      Hapus
  4. (((pria bertulang lunak))) asli ngakak aku hahahaha. Jangan salah mas, mereka itu malah bisa lebih gahar dari pria sejati malah :3

    BalasHapus
  5. Baru baca judulnya wes ngekek aku 😂😂
    Aku pernah jg diajak lewat sana malem2 jam 11an. Udah jejer2 mbak2 semlehoyy bergincu merah.
    Dulu itu milih lewat sana karena aku cenglu, gegara motornya kurang pas pulang dari jogja kemaleman.
    Malu sendiri aku ngeliatinnya. Tapi ga pengen nawar sihh *yaiyaaalaah* 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lewat gang-gang sempit? Apa cuma lewat jalan depan gedung RRI itu, Nggun?

      Aku dulu juga sekitaran jam 11an kayaknya, pokok e udah lumayan malam pas itu. Dan kebetulan pas nggak begitu ramai, jadi pas lewat gang bisa lihat dg jelas--nyata, para embak-embak pekerja itu.

      Hapus
  6. Wehh mesti sido njajan to? Wkakaka
    Tp justru rasa penasaranku lebih tinggi dg hal2 kya gt Mas.. Pernah sekali sengaja ke sarkem karena saking penasarannya. Ahahahay

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalah dayaku yang hanya mampu njajan Cheetos. Iki sekali njajan mahal, La. Jadi enggak aja lah xD

      Ya Allah....

      Hapus
  7. Mungkin aja pas bilang mohon itu dalam hati mereka bilang juga, "Ah, cemen gitu aja gak mau".. wkwk

    Apalagi posisi mas Wisnu yang duduk manis di belakang. Gak mau pun terkadang mas Gagah ya tinggal gas aja. Yang dibelakang manut..haha #pengalamjugaaku

    Kok miris ya, Mas. Murah bet, yakin, Mas mau pancal..hehe
    Jangan lah, sayang duitnya buat perpanjang domian aja..he

    Lha itu Ellah malah penasaran, pie to..ha
    Aku punya pengalaman nganter juga sih ke sarkem. Nganter tamu dari Tangerang apa mana ya, lupa. Liburan gitu ke Jogja. ceritanya biasa lah aku yang mandu untuk jalan-jalan, Mas. Waktu itu kemalaham ya karena malam sih aku bisanya.

    Aku tawarin ke bukit bintang dan yang lainnya. Yang sekiranya bagus untuk foto-foto, gak mau. Cuma ke tugu terus ngopi setelah itu minta anter ke sarkem. Astajim. Pulang jam 3 dan teler.

    Dan itu mas Ammar mau ngapain coba malah pengen berkunjung.
    Jadi curiga gak baca sampe akhir. Atau memang dia penasaran betul..wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau sekarang mah duit segitu udah cukup buat perpanjangan domain. Jangan buat jajan yang enggak-enggak lah. Man-eman. Aku baru ke RRI itu sih, kalau ke Sarkem dan sebagainya belum pernah. Masih keinget betapa merinding dan deg-deganya kalau mau ke tempat seperti ini lagi.

      Hapus
  8. Ngerti og mas sitik sitik bahasanya wuehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wis iso Boso Jowo 'o, Mas Andrie?

      Hapus
  9. Tak kira bakal baca semacam "review" wkwkw *kemudian diuncali sendal sama netijen*

    Gapapa mas jalan-jalan kaya gini tu, jalan-jalan yang nggak biasa buat pengalaman seumur hidup. Ahaha. Dulu pernah sekali lewat lorong Sarkem rame-rame sama temen-temen blog, deg-degan sekalii takut kalau malah jadi aku yang ditawar :D
    Tanganku keringat dingin. Terus dimarahi sama mbak-mbaknya "Kalau cuma pada mau main-main, sana ke Mall."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak berani kalau ngereview beginian mbak. Mampir lewat sama nawar aja, deg-degan aku. Hahaha...

      Iya bener. Saya jadi punya pengalaman baru tentang dunianya "embak-embak pekerja." Weleh, itu iseng juga mbak? Atau memang pada rencana mampir kesana?

      Hapus
  10. aku kudu ngguyu nek iki wkkwkwkkw ada2 aja, tp seru sih

    BalasHapus
  11. Waktu ke Solo tahun 2016 saya sempet iseng nanya sama Ilham. Tapi enggak dikasih tau di mana tempatnya. Padahal kalau waktu itu jadi, mungkin saya bisa bikin tulisan seperti ini. :p

    Namun, saya pernah juga sih, Wis. Baik di Jakarta maupun di Jogja. Di Jakarta pas tahun 2012, Jogja tahun 2014. Perbandingan harganya beda banget. Seingat saya yang di Jogja enggak sampai seratus ribu. Seru juga punya pengalaman iseng menawar mbak-mbak begitu. Meskipun bukan saya yang ngomong, tapi deg-degannya mantap betul. Wqwqwq.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi si Ilham sempet nyebut nama daerahnya, Yog? RRI, gitu? Apa memang bener-bener nggak dikasih tau apa-apa sama sekali?

      Wah, lhakok murah yang di Jogja. Hahaha...

      Hapus
    2. Cuma inget tempatnya deket stasiun. Udah lupa soal namanya, Wis. Wqwq.

      Hapus
  12. Ajegile.. 150rebu, semurah itukah... Jadi penasaran, *eh.
    Maksudku, kasian banget ya.. Bener banget kalo ga akan pernah sebanding itu tarif dengan resiko yang harus ditanggung. Duh, dunia hitam....

    BalasHapus
  13. aku tuh baca judulnya heran loh. bandingin dengan RRI Jember yang aman2 aja
    lah ada apa di RRI Solo kok sampai ada tawar2an harga?

    ealah ternyataaaa
    hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin pas ke Solo, diajak blusukan kesini nggak mbak? Hahaha...

      Hapus
  14. brarti pean wis nduwe list regone mas....:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak enek mas. Ngertine ya cuma 150 kui. Wqwqwq

      Hapus

Yakin udah di baca? Apa cuma di scroll doang?
Yaudah, yang penting jangan lupa komen yes?
Maturnuwun ^^

Member Of

Warung Blogger

Total Viewers